PENILAIAN LITERASI MATEMATIKA BERBASIS PENDIDIKAN PENGUATAN KARAKTER BAGIS SISWA TERDAMPAK BENCANA GUNUNG SINABUNG
Postingan ini diajukan sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester
Matakuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Semester 1 yang diampu oleh :
Oleh:
Delyanti A. Pulungan
NIM. 19701261013
PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI
PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA
2019
JUDUL:
Penilaian Literasi Matematika Berbasis Penguatan Karakter Bagi Siswa
Terdampak Bencana Gunung Sinabung.
LATAR BELAKANG
Matematika mengajarkan siswa untuk bisa berpikir logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif. Inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa matematika selalu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan formal. Cara berpikir matematika yang sistematis, dengan membiasakan otak siswa untuk memecahkan masalah kehidupan secara teratur dan runtut sehingga siswa lebih mudah mengetahui apa akar permasalahan, dan bagaimana menemukan solusinya. Mempelajari matematika juga melatih siswa agar cermat dan tidak ceroboh dalam bertindak. Contoh: dalam mengerjakan berbagai kasus matematika siswa harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol di belakang koma, bagaimana bentuk grafiknya, rumus mana yang cocok, operasi apa yang harusnya digunakan dan sebagainya. Bila siswa tidak cermat dalam memasukkan angka, menghitung digit di belakang koma, melihat grafik, menentukan rumus yang sesuai, dan menentukan operasi yang tepat, tentu dapat berakibat fatal. Solusi mungkin tidak akan ditemukan, atau solusi justru akan memperburuk permasalahan.
Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian. Literasi matematika dikatakan baik apabila ia mampu menganalisis, bernalar, dan mengkomunikasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya secara efektif, serta mampu memecahkan dan menginterpretasikan penyelesaian matematika. Seorang siswa dikatakan mampu menyelesaikan masalah apabila ia mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal. Kemampuan inilah yang biasa dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Sebelum dikenalkan melalui PISA, istilah literasi matematika telah dicetuskan oleh NCTM (1989) sebagai salah satu visi pendidikan matematika yaitu menjadi melek/literate matematika. Dalam visi ini literasi matematika dimaknai sebagai “an individual’s ability to explore, to conjecture, and to reason logically as well as to use variety of mathematical methods effectively to solve problems. By becoming literate, their mathematical power should develop”
Literasi matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, mengunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan lat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif. Pengertian ini mengisyaratkan literasi matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja akan tetapi hingga kepada pengunaan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari. Selain itu, literasi matematika juga menuntut seseorang untuk mengkomunikasikan dan menjelaskan fenomena yang dihadapinya dengan konsep matematika.
Lebih sederhana, Ojose, B (2011) berpendapat bahwa literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan mengunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik memiliki kepekaan konsep-konsep matematika mana yang relevan dengan fenomena atau masalah yang sedang dihadapinya. Dari kepekaan ini kemudian dilanjutkan dengan pemecahan masalah dengan mengunkan konsep matematika. Sejalan dengan pendapat tersebut, Stecey & Tuner (2015) mengartikan literasi dalam konteks matematika adalah untuk mememiliki kekuatan untuk mengunakan pemikiran matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Pemikiran matematika yang dimaksudkan meliputi pola pikir pemecahan masalah, menalar secara logis, mengkomunikasikan dan menjelaskan. Pola pikir ini dikembangkan berdasarkan konsep, prosedur, serta fakta matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian. Literasi matematika dikatakan baik apabila ia mampu menganalisis, bernalar, dan mengkomunikasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya secara efektif, serta mampu memecahkan dan menginterpretasikan penyelesaian matematika. Seorang siswa dikatakan mampu menyelesaikan masalah apabila ia mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal. Kemampuan inilah yang biasa dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Sebelum dikenalkan melalui PISA, istilah literasi matematika telah dicetuskan oleh NCTM (1989) sebagai salah satu visi pendidikan matematika yaitu menjadi melek/literate matematika. Dalam visi ini literasi matematika dimaknai sebagai “an individual’s ability to explore, to conjecture, and to reason logically as well as to use variety of mathematical methods effectively to solve problems. By becoming literate, their mathematical power should develop”
Literasi matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, mengunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan lat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif. Pengertian ini mengisyaratkan literasi matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja akan tetapi hingga kepada pengunaan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari. Selain itu, literasi matematika juga menuntut seseorang untuk mengkomunikasikan dan menjelaskan fenomena yang dihadapinya dengan konsep matematika.
Lebih sederhana, Ojose, B (2011) berpendapat bahwa literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan mengunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik memiliki kepekaan konsep-konsep matematika mana yang relevan dengan fenomena atau masalah yang sedang dihadapinya. Dari kepekaan ini kemudian dilanjutkan dengan pemecahan masalah dengan mengunkan konsep matematika. Sejalan dengan pendapat tersebut, Stecey & Tuner (2015) mengartikan literasi dalam konteks matematika adalah untuk mememiliki kekuatan untuk mengunakan pemikiran matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Pemikiran matematika yang dimaksudkan meliputi pola pikir pemecahan masalah, menalar secara logis, mengkomunikasikan dan menjelaskan. Pola pikir ini dikembangkan berdasarkan konsep, prosedur, serta fakta matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
Beberapa waktu yang lalu, Indonesia baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan. Desember 2019 lalu, Indonesia baru saja memperoleh publikasi skor tes PISA 2018 oleh OECD yang diikuti oleh siswa usia minimal 15 tahun atau setingkat SMA kelas X. Di mana skor matematika siswa Indonesia menurun drastis. Hasil dari pengukuran global untuk siswa berusia 15 tahun itu menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Indonesia adalah 379 dalam matematika 379 (Gambar 1.). Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 489 untuk kemampuan matematika. Dalam PISA sebelumnya, tahun 2015, siswa Indonesia mencatatkan rata-rata yang lebih tinggi untuk matematika, yaitu 386. Hasil ini sungguh mengagetkan, terutama karena terjadi setelah digalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2016, di mana literasi matematika juga menjadi fokus pembelajaran. Sayangnya, laporan PISA menjelaskan bahwa penyebab paling signifikan adalah rendahnya kualitas guru dan disparitas mutu pendidikan di Indonesia diduga sebagai penyebab utama buruknya kemampuan literasi siswa secara umum. Tentu ini memperkuat dugaanbahwa ada yang salah dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, sehingga gagal meningkatkan kualitas literasi siswa, khususnya literasi matematika.
Gambar 1. Grafik Skor PISA Indonesia Tahun 2018
Sumber: www.databoks.katadata.co.id, 2019
Berdasarkan data PISA, OECD, diperoleh informasi ada sebanyak 28% siswa Indonesia yang mampu mencapai literate pada level dua. Pada level 2, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis. Sementara, hanya 1% siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas). Dalam level tersebut siswa dapat membuat model situasi yang rumit secara matematis, memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi penyelesaian masalah yang tepat untuk menyelesaikannya (OECD, PISA 2018 Insight and Interpretation)
Meskipun Gerakan Literasi Sekolah telah disosialisasikan dan diterapkan sejak 2016, masih banyak sekolah yang kesulitan menerapkannya. Terutama sekolah yang berada jauh dari pusat kota, apalagi skeolah yang berada di wilayah terdampak bencana. Salah satunya adalah sekolah yang berada di wilayah terdampak bencana gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sejak tahun 2010, dimana letusan gunung Sinabung yang mengakibatkan 12 ribu warga di sekitarnya dievakuasi ke 8 lokasi dengan menyemburkan debu vulkanis hingga ketinggian 5.000 meter di udara. Bahkan sampai tahun 2019, Sinabung masih terus mengeluarkan abu vulkaniknya. Kondisi itu mengakibatkan banyak sekolah yang bangunannya tak layak pakai. Sehingga, pemerintah daerah berinisiatif mendirikan tenda-tenda sebagai sekolah darurat bagi anak-anak sekitar. Bahkan hingga 2019, masih ada sekolah yang harus menyelenggarakan pendidikannya di beberapa tenda darurat.
Siswa terdampak bencana terdiskriminasi haknya mendapatkan pembelajaran yang layak, khususnya dalam pemenuhan kompetensi pembelajaran matematika sebagi dampak dari bencana gunung sinabung yang tidak berhenti. Erupsi gunung sinabung yang terus-menerus, merusak proses KBM siswa dan merusakan karakter siswa. Siswa yang dalam waktu lama tinggal dipengungsian, berdampak pada karakter siswa. Kondisi dimana siswa sekolah harus tinggal bersama dengan orang-orang dewasa, membuat karakter siswa berubah. Siswa tidak lagi bersikap sebagaimana anak-anak seusia mereka. Disiplin anak sangat buruk, sopan santun anak juga tidak lagi terlihat, beberapa dari anak juga tidak lagi memiliki tanggung jawab. Siswa sekitar Gunung Sinabung membutuhkan perbaikan karakter melalui proses belajar dan penilaian.
Kondisi ini tentu membuat sekolah kesulitan untuk menerapkan Gerakan Literasi Sekolah. Khusus untuk Literasi Matematika, tentu guru dan siswa memiliki keterbatasan dalam membelajarkannya diakibatkan proses belajar yang terganggu. Kondisi ini seharusnya menjadi pertimbangan bahwa Kompetensi literasi matematika siswa di daerah sekitar Gunung Sinabung tidak bisa disamakan dengan kompetensi siswa di daerah lain dengan suasana dan prasaranan belajar yang lebih memadai. Begitupun, bukan berarti kompetensi literasi matematika tidak bisa dibelajarkan kepada mereka. Perlu adanya prototype penilaian literasi matematika yang khusus bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung.
Kondisi ini tentu membuat sekolah kesulitan untuk menerapkan Gerakan Literasi Sekolah. Khusus untuk Literasi Matematika, tentu guru dan siswa memiliki keterbatasan dalam membelajarkannya diakibatkan proses belajar yang terganggu. Kondisi ini seharusnya menjadi pertimbangan bahwa Kompetensi literasi matematika siswa di daerah sekitar Gunung Sinabung tidak bisa disamakan dengan kompetensi siswa di daerah lain dengan suasana dan prasaranan belajar yang lebih memadai. Begitupun, bukan berarti kompetensi literasi matematika tidak bisa dibelajarkan kepada mereka. Perlu adanya prototype penilaian literasi matematika yang khusus bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung.
Kondisi sekitar siswa terdampak bencana gunung sinabung dapat dimanfaatkan sebagai konteks dalam mengembangkan literasi matematika siswa melalui penilaian literasi matematika berbasis pembentukan karakter. Ide pemerintah tentang Komeptensi Minimal sangat sejalan dengan ide penelitian ini. Dimana memang seharusnya setiap daerah yang memiliki disparitas mutu pendidikan yang signifikan harus memiliki kompetensi masing-masing. Termasuk kompetensi minimal pada literasi matematika di setiap daerah tentu berbeda. Dengan kondisi lingkungan yang tidak kondusif di daerah sekitar Gunung Sinabung, perlu direncanakan atau di konstruksi ulang bagaimana literasi matematika minimal yang harus dimiliki siswa. Selain itu, kondisi yang serba darurat juga tidak bisa menjadikan alasan tidak terbentuknya karakter siswa yang seharusnya. Sehingga, dengan penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter menjadi sangat dibutuhkan bagi siswa sekolah di sekitar wilayah tedampak bencana gunung Sinabung.
Berdasarkan latar belakang msalah yang telah dijabarkan, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Bagaimana kompetensi minimal literasi matematika bagi siswa terdampak gunung sinabung.
- Bagaimana pengembangan penilaian literasi matematika berbasis penguatanpendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung?
- Bagaimana karakteristik instrumen penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung?
- Bagaimana efektivitas penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung yang dikembangkan?
1. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D). R&D merupakan model pengembangan dimana penelitiannya digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru yang diuji di lapangan, dievaluasi, dan disempurnakan hingga memenuhi kriteria tertentu Borg & Gall (2003). Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah instrument penilaian literasi matematika siswa berbaasis penguatan karakter bagi siswa terdampak gunung sinabung.
Prosedur pengambangn instrument akan mengadopsi langkah-langkah pengembangan instrument yang dikemukakan oleh Azwar (2014), yaitu dapat dilihat pada Gambar 2. berikut:
Gambar 2. Grafik Skor PISA Indonesia Tahun 2018
3. Instrumen yang Dikembangkan. Instrumen yang akan dikembangkan pada penelitian ini terdiri dari:
a. Instrumen Analisis Kebutuhan
b. Instrumen Validasi Ahli (Expert Judgement)
c. Instrumen Penilaian Literasi Matematika : Tes, Lembar Observasi, dan Angket
d. Instrumen Efektivitas Penilaian untuk Guru, dan Siswa
d. Instrumen Efektivitas Penilaian untuk Guru, dan Siswa
4. Subjek Ujicoba
Siswa Minimal Kelas IX SMP di sesiswar wilayah terdampak Erupsi Gunung
Sinabung, yaitu 4 kecamatan : Simpang Empat, Brastagi, Dolat Rakyat, dan Kabanjahe,
Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jumlah subjek ujicoba minimal 200 siswa.
5. Teknik Analisis Data
a. Analisis Kualitatif
Instrumen : akan dianalisis validitas isi oleh ahli (expert judgment) yang
pakar dalam bidang: Pengukuran, Matematika, Bahasa, Psikologi dan Karakter.
b. Analisis Kuantitatif:
akan dianalisis dengan pendekatan IRT untuk mengetahui validitas, dan
reliabilitas empiris serta mengetahui karakteristik butir dan kemampuan siswa.
Marsigit. (2011). “Pengembangan Nilai-nilai Matematika dan Pendidikan Matematika sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa”. Dipresentasikan pada: Seminar Nasional Pengembangan Nilai-nilai dan Aplikasi dalam Dunia Matematika Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Sabtu, 8 Oktober 2011 Di Universitas Negeri Semarang
Marsigit. (2013). “Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics”. https://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegi-menggapai-ontological-foundation.html
National Council of Teacher Mathematics. 2000. Principles and Standards for Schools Mathematics. Reston. VA: NCTM
Ozgen, K. 2012. “An Analysis of High School Students’ Mathematical Literacy Self-efficacy Beliefs in Relation to Their Learning Styles.” Journal The Asian-Pasific Education Researcher, Volume 22, Issue 1, pp 91-10
OECD, PISA 2012 Assesment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy, Paris: OECD Publisher, 2013.
NCTM, Curriculum and evaluation standards for school mathematics, Reston: NCTM, 1989
Ojose, B. Mathematics Literacy: Are We Able To Put The Mathematics We Learn Into Everyday Use? Journal of Mathematics Education. Vol 4, No. 1, p 89-100, 2011
Stecey, K & Tuner, R., Assessing Mathematical Literacy: The PISA experience, Australia: Springer, 2015
Steen, L., & Turner, R., Developing Mathematical Literacy. In Blum, W., Galbraith, P., Henn, H-W., & Niss, M (Eds), Modeling and Aplication in Mathematics Education- The 14th ICMI Study (pp. 285 - 294). New York: Springer.2007
De Lange, Mathematical Literacy for Living from OECD-PISA Perspective. Tsukuba Journal of Educational Study in Mathematics, 25, p 13-35, 2006.
De Lange, J., Mathematic for Literacy. Dalam Madison, B., & Steen, L. (Eds), Quantitative Literacy: Why Numeracy Matters for School and Cholleges.(pp. 75–89). USA: National Council on Education and the Diciplines, 2003.




