LITERASI MATEMATIKA PISA INDONESIA 2018 MEROSOT, APA YANG SALAH?
(Identifikasi Masalah Pembelajaran Matematika di Sekolah)
Oleh:
Oleh:
Delyanti Azzumario Pulungan
(NIM. 19701261013)
Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, S3
Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
*) Postingan ini diajukan sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester
Matakuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Semester 1 yang diampu oleh :
Kata “matematika” tentu bukan sebuah kata yang aneh dan asing bagi siswa semua. Kata “Matematika” sudah sering siswa dengar, bahkan sejak kecil. Khususnya di dunia pendidikan formah, matematika menjadi mata pelajaran pokok yang harus dibelajarkan kepada siswa. Matematika juga menjadi satu diantara mata pelajaran yang diujiankan secara nasional mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA. Bahkan, proses seleksi perguruan tinggi juga selekasi Calon Pegawai Negeri Sipil juga menjadikan matematika sebagai satu pokok konten yang harus diujikan. Hal ini menguatkan bahwa matematika menjadi salah satu standar kriteria kelayakan siswa. Saya sebut “Salah Satu” karena memang tidak bisa siswa menjadikan matematiak sebagai satu-satunya kriteria. Ada banyak factor dan kriteria lain tentunya yang bisa dijadikan kriteria kelayakan dan kecakapan kompetensi siswa.
Tentu ada faktor penyebab mengapa matematika kerap digunakan sebagai standar kriteria. Barangkali karena matematika memang menjadi kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak persoalan sehari-hari yang dapat dipecahkan dengan menggunakan pendekatan matematis. Tak sedikit yang menilai bahwa matematika hanya sebatas persoalan angka-anagka dan rumus-rumus yang membingungkan. Padahal, sesungguhnya di dalam notasi dan konsep matematika, terdapat penalaran yang dapat dimanfaatkan untuk memaknai berbagai kondisi kehidupan sehari-hari serta menyelesaikan berbagai persoalan yang dekat dengan sosial manusia.
Matematika mengajarkan siswa untuk bisa berpikir logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif. Inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa matematika selalu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan formal. Cara berpikir matematika yang sistematis, dengan membiasakan otak siswa untuk memecahkan masalah kehidupan secara teratur dan runtut sehingga siswa lebih mudah mengetahui apa akar permasalahan, dan bagaimana menemukan solusinya. Mempelajari matematika juga melatih siswa agar cermat dan tidak ceroboh dalam bertindak. Contoh: dalam mengerjakan berbagai kasus matematika siswa harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol di belakang koma, bagaimana bentuk grafiknya, rumus mana yang cocok, operasi apa yang harusnya digunakan dan sebagainya. Bila siswa tidak cermat dalam memasukkan angka, menghitung digit di belakang koma, melihat grafik, menentukan rumus yang sesuai, dan menentukan operasi yang tepat, tentu dapat berakibat fatal. Solusi mungkin tidak akan ditemukan, atau solusi justru akan memperburuk permasalahan.
Beberapa waktu yang lalu, Indonesia baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan. Desember 2019 lalu, Indonesia baru saja memperoleh publikasi skor tes PISA 2018 oleh OECD yang diikuti oleh siswa usia minimal 15 tahun atau setingkat SMA kelas X. Dimana skor matematika siswa Indonesia menurun drastis. Hasil dari pengukuran global untuk siswa berusia 15 tahun itu menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Indonesia adalah 379 dalam matematika 379. Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 489 untuk kemampuan matematika. Dalam PISA sebelumnya, tahun 2015, siswa Indonesia mencatatkan rata-rata yang lebih tinggi untuk matematika, yaitu 386. Hasil ini sungguh mengagetkan, terutama karena terjadi setelah digalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2016, di mana literasimatematika juga menjadi fokus pembelajaran. Sayangnya, laporan PISA menjelaskan bahwa penyebab paling signifikan adalah rendahnya kualitas guru dan disparitas mutu pendidikan di Indonesia diduga sebagai penyebab utama buruknya kemampuan literasi siswa secara umum. Tentu ini memperkuat dugaanbahwa ada yang salah dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, sehingga gagal meningkatkan kualitas literasi siswa, khususnya literasi matematika.
Begitupun sebagai memperkuat dugaan tersebut, saya kemudian melakukan Tanya jawab singkat kepada beberapa guru di Kota Medan. Saya rasa, memperoleh informasi langsung dari guru sekolah menjadikan informasi lebih berimbang. Berdasarkan informasi dari para guru, informasi diperoleh justru ada banyak masalah dalam pembelajaran matematika siswa yang dialami guru selama dikelas. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Rendahnya Pemahaman Konsep
Sepertinya, permasalahan rendahnya pemahaman konsep siswa menjadi factor utama rendahnya kemampuan matematika siswa. Informasi diperoleh bahwa siswa kesulitan menyelesaikan soal-soal yang memiliki konsep yang sama, tetapi berbeda konteks dengan contoh yang diberikan siswa. Siswa sulit menyelesaikan soal, ketika soalnya berbeda dengan contoh, padahal masih menggunakan konsep yang sama. Ini membuktikan pemahaman konsep siswa sangat rendah.
2. Resiliensi siswa Rendah
Resiliensi yang dimaksud adalah kemampuan mental siswa untuk kembali fokus dan mencari tahu solusi dari soal matematika yang dianggap sulit. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari seorang Guru bernama Abdurahim yang mengajar di SMA Swasta di Kota Medan, siswa memiliki mental yang lemah ketika menemukan soal yang tidak bias dikerjakan. Biasanya mereka langsung cepat menyerah, mencari jawaban dari temannya. Tidak ada usaha bertanya dengan guru atau berkumpul dan berdiskusi dengan teman-teman. Ini menjadi masalah terbanyak kedua yang penulis temukan.
3. Malas Menjabarkan Proses
Selanjutnya, masalah yang ditemukan dari siswa-siswa yang memiliki pengetahuan dalam mengoperasikan matematika dan menggunakannya untuk penyelesaian soal, tetapi malas untuk menjabarkannya. Persoalan ini biasanya ditemukan pada siswa-siswa yang memilik kemampuan matematika baik, sehingga langsung memilih penyelesaian yang singkat. Maka kemampuan proses matematis siswa tidak bisa diukur. Kondisi ini membuat guru kesulitas m
anggapan semua anak punya kemampuan awal yang sama. Selain itu, siswa engidentifikasi level kognitif siswa. Akibatnya evaluasi pembelajaran selanjutnya tidak sempurnah dilakukan.
4. Perbedaan Kemampuan Siswa
Dalam satu kelas, hal yang tidak bias dipungkiri adalah bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama. Perbedaan kemampuan ini, tentu menyulitkan bagi siswa dalam pembelajaran. Apalagi, kemampuan guru mengajar juga terbatas. Akhirnya guru mengajar dengan juga tidak memiliki inisiatif untuk belajar secara mandiri sehingga dapat menyamakan kemampuan dengan teman-teman yang lebih unggul. Poin ini mungkin yang dimaksud oleh temuan PISA bahwa disparitas kemampuan siswa menjadi penyebab rendahnya skor literasi matematika siswa pada PISA 2018.
5. Kompetensi pencapaian pembelajaran siswa sulit untuk disamakan.
Kesulitan menyetarakan kompetensi siswa ini, ternyata berdampak pada pembelajaran yang sulit dilaksanakan dengan sama rata. Guru kesulitan menemukan pendekatan pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir semua level kompetensi.
6. Pemaham dasar matematika siswa rendah.
Ternyata, masih banyak ditemukan bahwa siswa sangat kurang dalam pemahaman dasar operasi-operasi matematika. Cukup mengejutkan ketika masalah ini ditemukan pada siswa tingkat SMA. Informasi yang diperoleh, bahkan siswa kesulitan mengoperasikan operasi postif dan negatif.
7. Rendahnya Kreasi dan Inovasi Guru
Guru tidak bersemangat untuk berkreasi dan inovasi dalam pembelajaran, karena tuntutan administrasi yang banyak. Guru-guru di Sekolah di daerah bahkan menjadikan mengajar sebagai sampingan dan lebih focus mengerjakan hal lain, berbisnis misalnya. Karena kompensasi guru di daerah, terutama guru swasta itu sangat minim
8. Rendahnya dukungan keluarga terhadap pembelajaran siswa dirumah juga kurang.
Sehingga siswa hanya punya waktu dan tempat untuk belajar di sekolah. Di rumah mereka kesulitan mengulang karena keluarga tidak mampu mendukung, disebabkan berbagai keterbatasan. Terutama keterbatasan orang tua dalam pengetahuan pembelajaran siswa.
9. Siswa Sulit Menyelesaikan soal dengan konteks
Siswa kesulitan mengerjakan soal matematika dengan konteks. Mereka lebih mudah mengerjaan soal yang langsung pada perhitungan notasi matematis. Tetapi persoalan matematis diberikan dalam konteks tertnetu, siswa kebingungan menggunakan konsep matematika
10. Kondisi Kemampuan Siswa terdampak Bencana
Anak-anak di wilayah terdampak gunung sinabung, sangat rendah kemampuan matematikanya, bahkan untuk konsep-konsep dasar. Aplikasi notasi matematika sangat kurang jika harus menyelesaikan persoalan berkonteks. Bencana yang terus-menerus membuat siswa semakin tertinggal dalam pembelajaran matematika. Sikap siswa sulit dikendalikan karena beberapa masih ada yang tinggal dipengungsian sehingga karakter anak bercampur dengan orang dewasa yang tak terkendali Siswa belajar di sekolah-sekolah darurat disekitar pengungsian, membuat guru kesulitan mengendalikan sikap siswa.
11. Kemampuan siswa menemukan notasi matematika yang tepat
Siswa kesulitan menggunakan notasi matematika untuk menyelesaiakn persoalan sehari-hari. Salah satunya disebabkan karena soal-soal di buku juga terkadang jauh dari konteks keseharian siswa. Sehingga siswa kurang ilustrasi dalam menyelesaiakn soal.
12. Soal Esay menyulitkan siswa
Siswa lebih suka mengerjakan tes matematika bentuk Objektif Pilihan Ganda dibandingkan Esai. Karena siswa punya pilihan kemungkinan jawaban, dan tidak perlu menjawarkan proses penyelesaian. Siswa kesulitan mengerjakan soal-soal matematika dengan redaksi yang panjang. (soal cerita). Apalagi kalau ceritanya tidak familiar dengan lingkungan siswa.
13. Pengalaman Nyata Dalam Belajar Matematika Rendah.
Pembelajaran matematika belum melibatkan aktivitas luar ruangan yang membutuhkan gerak fisik siswa, sehingga matematika yang abstrak sulit dipahami siswa untuk diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Padahal, belajar matematika tidak hanya selalu tentang teoritis, tetapi juga praktik di lapangan.
14. Moral siswa rendah. Siswa sering bersikap tidak sopan dengan guru.
Persoalan moral ini ternyata juga berdampak pada proses pembelajaran. Siswa dengan moral (karakter) yang buruk, membuat situasi belajar tidak kondusif, dan menganggu guru dalam menyelesaiakn proses pembelajaran di dalam kelas
15. Guru di Kejar Penyelesaian kompetensi siswa.
Kompetensi yang banyak, materi pembelajaran yang banyak, dengan perbedaan kompetensi/kemampuan awal yang dimiliki siswa di kelas membuat guru tidak maksimal mengajarkan setiap bab/materi pembelajaran matematika. Bahakan terpaksa lompat-lompat, atau hanya fokus pada materi-materi yang dinilai masuk dalam ujian nasional. Sementara bab yang tidak masuk dalam ujian nasional diajarkan seadanya, bahkan tidak disampaikan sama sekali.
Yogyakarta, Desember 2019.
Yogyakarta, Desember 2019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar