Literasi
Matematika
Literasi
matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing),
merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada
konteks yang ada (Kusumah, 2012: 93). Literasi matematika diartikan sebagai
kemampuan seseorang untuk membaca, memahami sekaligus mengaplikasikan
matematika dalam persoalan kehidupan sehari-hari sebagai kontribusinya menjadi
anggota masyarakat yang cerdas dan berbudi luhur (Zulkardi, 2003: 1-6).
Organisation for Economic Co-operation
and Development (OECD) menyatakan bahwa literasi matematika adalah kemampuan
individu untuk mengenal dan memahami peran matematika di dunia untuk membuat
keputusan-keputusan yang tepat dan mempergunakan matematika untuk solusi dari
kebutuhan hidup hari ini dan masa depan sebagai warga negara yang konstruktif,
peduli dan reflektif (OECD, 2013: 25).
Berdasarkan
pengertian literasi matematika diketahui bahwa literasi matematika dapat
membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika untuk
kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan yang
tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli dan berpikir. Oleh karena
itu, literasi matematika dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang individu
untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai
konteks. Termasuk didalamnya bernalar secara matematis dan menggunakan konsep,
prosedur, fakta, dan alat matematika dalam menjelaskan serta memprediksikan
fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
PISA
(Programme International Student Assessment) merupakan salah satu program
kerjasama beberapa negara OECD (Organization for Economic Co-operation and
Development) untuk melakukan pengukuran sejauh mana siswa-siswa yang berusia 15
tahun, siap untuk menghadapi berbagai tantangan hidup yang membutuhkan
kemampuan literasi matematika. Usia 15 tahun dipilih karena pada usia ini
kebanyakan siswa-siswa di negara OECD sedang memasuki tahap akhir dari wajib
belajar. Pada usia ini pula saat yang tepat untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan serta sikap siswa yang telah terakumulasi melalui proses
pendidikan hampir mencapai 10 tahun. Keterampilan-keterampilan yang dikuasainya
menggambarkan kemampuan siswa untuk melanjutkan proses belajar dalam hidupnya
dengan cara mengaplikasikan, memilih dan membuat keputusan berdasarkan apa yang telah mereka pelajari di dalam
lingkungan sekolah ataupun non sekolah.
Tujuan
PISA dalam literasi matematika ialah mengembangkan indikator yang menunjukkan
seberapa efektif negara-negara yang terlibat dalam menyiapkan siswa dalam
menggunakan matematika disetiap aspek kehidupan pribadi, masyarakat, dan
profesi sebagai bagian dari anggota masyarakat yang perduli dan konstruktif
(OECD, 2013: 24)
Literasi
matematika yang dikembangkan oleh PISA memiliki 3 komponen yaitu: konten,
proses, dan konteks. OECD (2013) menjelaskan bahwa PISA membagi konten-konten
matematika menjadi 4 yaitu Space and Shape (ruang dan bentuk), Change and
Relationships (perubahan dan hubungan), quantity (kuantitas atau jumlah), dan
uncertainy (ketidakpastian). Space and Shape (Bentuk dan ruang) berarti tentang
bentuk-bentuk dua dimensi dan tiga dimensi termasuk bentuk-bentuk yang berada
di kehidupan sehari-hari yang bisa direpresentasikan ke dalam bentuk yang
dikenal dalam konsep matematika. Change and Relationships membahas tentang
suatu kejadian yang berubah baik secara drastis maupun bertahap, juga tentang
hubungan antara dua benda atau kejadian. Quantity berisikan tentang banyaknya
suatu benda yang biasanya berupa perhitungan-perhitungan yang menggunakan
perkalian yang rumit. Sedangkan uncertainy membahas tentang suatu kejadian yang
tidak dapat diprediksi dengan pasti namun menggunakan logika dan konsep
matematika untuk menemukan kepastiannya.
Pembelajaran
matematika yang diterapkan di Indonesia, keempat komponen konten dalam PISA ini mencakup beberapa
materi matematika. Space and Shape (ruang dan bentuk) mencakup materi-materi
diantaranya adalah: geometri serta letak dan perpindahan. Change and
Relationships (perubahan dan hubungan) mencakup materi-materi diantaranya
adalah: relasi, persamaan dan fungsi. Quantity (kuantitas atau jumlah) mencakup
materi-ateri diantaranya adalah: bilangan, pecahan dan desimal, serta rasio,
proporsi, persen. Uncertainy (ketidakpastian) mencakup materi-materi
diantaranya adalah: organisasi dan representasi data, menafsirkan data, serta
peluang.
Komponen
proses dalam studi PISA dimaknai sebagai hal-hal atau langkah-langkah seseorang
untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam situasi atau konteks tertentu
dengan menggunakan matematika sebagai alat sehingga permasalahan itu dapat
diselesaikan. Kemampuan proses didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam
merumuskan (formulate), menggunakan (employ) dan menafsirkan (interpret)
matematika untuk memecahkan masalah.
PISA
dalam framework literasi matematika memiliki siklus proses yang diperlihatkan
pada Gambar 1
Sumber:
PISA 2012 Assessment and Analytical Framework, OECD, 2013
Gambar
1. Siklus literasi matematika dalam
praktik PISA 2012
Berdasarkan
siklus literasi matematika pada Gambar 1, dapat dijelaskan bahwa literasi
matematika berangkat dari permasalahan yang berasal dari dunia nyata (konteks).
Penyelesaian masalah secara kontekstual kemudian dilakukan dengan menerapkan
tindakan dan gagasan matematis untuk menyelesaikan masalah. Proses penyelesaian
masalah ini menjadi penilaian tingkat literasi matematika. Proses literasi
matematika diawali dengan melakukan identifikasi masalah kontektual, untuk
kemudian merumuskan masalah tersebut secara matematis berdasarkan
konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang melekat pada masalah.
Langkah
selanjutnya dalam proses literasi matematika
adalah menerapkan prosedur matematika untuk memperoleh hasil
matematik. Tahapan ini biasanya melibatkan aktivitas seperti
memanipulasi, bernalar, dan menghitung. Hasil matematika yang diperoleh
kemudian ditafsirkan kembali dalam bentuk hasil yang berhubungan dengan
masalah awal (konteks permasalahan). Setelah menafsirkan kembali kepada masalah
awal, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi apakah hasil matematika
tersebut tepat digunakan untuk permasalahan tersebut.
Kerangka
penilaian literasi matematika dalam PISA 2012 menjabarkan bahwa kemampuan
proses memiliki tujuh kemampuan penting, yaitu sebagai berikut (OECD, 2013:
30-32).
- Komunikasi.
Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk mengkomunikasikan
permasalahan sehari-hari (konteks). Kemampuan komunikasi dalam literasi matematika
terlihat dari kemampuan menemukan masalah dalam sebuah konteks tertentu
yang sedang dihadapi.
- Matematisasi.
Literasi matematika melibatkan kemampuan matematisasi, yaitu kemampuan
mengubah permasalahan yang ditemukan dalam konteks (kehidupan sehari-hari)
kedalam bentuk matematika, atau sebaliknya merubah bentuk (persoalan)
matematika kedalam kehidupan sehari-hari
- Menyajikan
kembali. Literasi matematika melibatkan kemampuan menyajikan kembali
(representasi) sebuah permasalahan atau sebuah objek matematika melalui
cara seperti memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan menggunakan grafik,
tabel, Gambar, diagram, rumus, persamaan, maupun benda konkret untuk
memotret masalah agar lebih jelas dan detail.
- Menalar
dan memberi alasan. Literasi matematika melibatkan kemampuan menalar dan
memberi alasan, yaitu kemampuan untuk berfikir logis untuk menganalisis
informasi yang didapat agar dapat membuat sebuah kesimpulan dan memberikan
alasan.
- Menggunakan
strategi pemecahan masalah. Literasi matematika melibatkan kemampuan
menggunakan strategi untuk memecahkan masalah sehari-hari, baik yang
terlihat jelas mapun yang membutuhkan startegi yang lebih rumit dalam
memecahkan masalah.
- Menggunakan
simbol, bahasa formal dan teknis. Literasi matematika melibatkan kemampuan
untuk menggunakan simbol, bahasa formal dan teknik dalam matematika untuk
memecahkan persoalan sehari-hari di dunia nyata.
- Menggunakan
alat matematika. Literasi matematika melibatkan kemampuan menggunakan alat
matematika misalnya melakukan pengukuran dan pengoperasian matematika.
- Komponen
konteks dalam studi PISA dimaknai sebagai situasi yang tergambar dalam
suatu permasalahan. Permasalahan konteks pribadi dapat berupa permasalahan
belanja, kesehatan, olah raga, perjalanan, penyiapan makanan, dan
keuangan. Permasalahan konteks pekerjaan contohnya seperti desain gedung,
perhitungan harga, pengontrolan kualitas. Contoh permasalahan dalam
konteks sosial seperti pemilihan
suara, transportasi umum, kebijakan publik, periklanan, pemerintahan.
Sedangkan untuk konteks ilmu pengetahuan seperti cuaca, obat, teknologi,
mapuan pengetahuan dan pengukuran yang tercakup dalam materi matematika
lainnya.
Pandangat
Filsafat Terhadap Literasi Matematika
Pandangan Ontologi Terhadap
Literasi Matematika
Menurut
Marsigit (2013), filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di semua Negara di dunia ini.
Sehingga, literasi matematika pun berkembang sejalan dengan berkembangnya
filsafat. Sebagai sebuah kemampuan untuk menemukan, memahami, dan menerapkan
matematika dalam kehidupan sehari-hari, Literasi matematika telah memenuhi
makna ontologis dari matematika. Yaitu, literasi matematika merupakan usaha
memahami keseluruhan dan kenyataan matematika yang ada dan yang mungkin ada
disekeliling kita, dengan kata lain,
literasi matematka merupakan segala matematika yang mengada. Maka setiap
kejadian disekeliling kita adalah aksioma-aksioma.
Pandangan Epistimologi Terhadap
Literasi Matematika
Immanuel
Kant dalam Marsigit (2008:12) menjelaskan bahwa awal dari pengetahuan
matematika adalah sebuah kesadaran tentang makna matematika. Literasi
matematika. Secara epistimologi, maka literasi matematika dapat dimaknai
sebagai bahasa analog yang menggunakan simbol-simbol dan bahasa teknik yang
dapat digunakan untuk melakukan matematisasi dalam kehidupan nyata. Sebagai
contoh, bagaimana seorang anak mampu memahami bahwa ketika ia membeli 2 permen
rasa stroberi, dan 1 permen rasa coklat, maka ia akan mempunyai 3 buah permen.
Pengalaman anak membeli permen itu merupakan bahasa analog dari operasi
matematika penjumlahan.
Pandangan Aksiologi Terhadap
Literasi Matematika
Literasi
matematika menjadikan alam sebagai laboratorium matematika, sehingga belajar
matematika merupakan pengalaman beraktivitas membca, memahami, menduga
tanda-tanda alam yang kemudian memiliki nilai-nilai yang bermakna. Hartman
dalam Marsigit (2015) menjelaskan nilai merupakan sebuah fenomena atau konsep;
nilai sesuatu ditentukan oleh sejauh mana fenomena atau konsep itu sampai
kepada makna atau arti. Pandangan filsafat mengistilahkan nilai ini sebagai
maksa aksiologi literasi matematika. Bahwa aksioma, bahasa analog matematika
harus memiliki nilai-nilai, baik secara instrinsik, ekstrinsik dan sistematis.
Jika seseorang menguasai matematika hanya untuk dirinya maka pengetahuan
matematikanya bersifat intrinsik; jika dia bisa menerapkan matematika untuk
kehidupan seharihari maka pengetahuanmatematika bersifat ekstrinsik; dan jika
dia dapat mengembangkan matematika dalam kancah pergaulan masyarakat matematika
maka pengetahuan matematikanya bersifat sistemik. (Marsigit, 2011). Karena itu,
Literasi maktematika sebagai kemampuan aplikasi matematika untuk kehidupan
sehari-hari, memiliki nilai-nilai yang muncul dan akan berdampak bagi kehidupan
sehari-hari.
REFERENSI
Marsigit.
(2011). “Pengembangan Nilai-nilai Matematika dan Pendidikan Matematika sebagai
Pilar Pembangunan Karakter Bangsa”. Dipresentasikan
pada: Seminar Nasional Pengembangan Nilai-nilai dan Aplikasi dalam Dunia
Matematika Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Sabtu, 8 Oktober 2011 Di
Universitas Negeri Semarang
Marsigit.
(2013). “Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics”. https://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegi-menggapai-ontological-foundation.html
National
Council of Teacher Mathematics. 2000. Principles and Standards for Schools Mathematics. Reston. VA: NCTM
Ozgen, K. 2012. “An Analysis of High School
Students’ Mathematical Literacy Self-efficacy Beliefs in Relation to Their
Learning Styles.” Journal The
Asian-Pasific Education Researcher, Volume 22, Issue 1, pp 91-100
OECD.
2009. Learning Mathematics for Life A
View Perspective From PISA. Paris: The Organisation for Economic
Co-operation and Development
Publications
OECD.
2010. PISA 2012 Mathematics Framework.
Paris: The Organisation for Economic Co-operation and Development Publications
Ojose, B. 2011. “Mathematics Literacy: Are We Able To Put The Mathematics We Learn Into Everyday Use?” Journal of Mathematics Education,Volume 4, No. 1, pp. 89-100

Tidak ada komentar:
Posting Komentar