Selasa, 31 Desember 2019

Tugas Akhir Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A. : Nilai Filsafat Dalam Literasi Matematika

Literasi Matematika
Literasi matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing), merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada (Kusumah, 2012: 93). Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, memahami sekaligus mengaplikasikan matematika dalam persoalan kehidupan sehari-hari sebagai kontribusinya menjadi anggota masyarakat yang cerdas dan berbudi luhur (Zulkardi, 2003: 1-6). Organisation for Economic  Co-operation and Development (OECD) menyatakan bahwa literasi matematika adalah kemampuan individu untuk mengenal dan memahami peran matematika di dunia untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mempergunakan matematika untuk solusi dari kebutuhan hidup hari ini dan masa depan sebagai warga negara yang konstruktif, peduli dan reflektif (OECD, 2013: 25).
Berdasarkan pengertian literasi matematika diketahui bahwa literasi matematika dapat membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika untuk kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan yang tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli dan berpikir. Oleh karena itu, literasi matematika dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang individu untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk didalamnya bernalar secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika dalam menjelaskan serta memprediksikan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
PISA (Programme International Student Assessment) merupakan salah satu program kerjasama beberapa negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) untuk melakukan pengukuran sejauh mana siswa-siswa yang berusia 15 tahun, siap untuk menghadapi berbagai tantangan hidup yang membutuhkan kemampuan literasi matematika. Usia 15 tahun dipilih karena pada usia ini kebanyakan siswa-siswa di negara OECD sedang memasuki tahap akhir dari wajib belajar. Pada usia ini pula saat yang tepat untuk mengukur pengetahuan, keterampilan serta sikap siswa yang telah terakumulasi melalui proses pendidikan hampir mencapai 10 tahun. Keterampilan-keterampilan yang dikuasainya menggambarkan kemampuan siswa untuk melanjutkan proses belajar dalam hidupnya dengan cara mengaplikasikan, memilih dan membuat keputusan berdasarkan   apa yang telah mereka pelajari di dalam lingkungan sekolah ataupun non sekolah.
Tujuan PISA dalam literasi matematika ialah mengembangkan indikator yang menunjukkan seberapa efektif negara-negara yang terlibat dalam menyiapkan siswa dalam menggunakan matematika disetiap aspek kehidupan pribadi, masyarakat, dan profesi sebagai bagian dari anggota masyarakat yang perduli dan konstruktif (OECD, 2013: 24)
Literasi matematika yang dikembangkan oleh PISA memiliki 3 komponen yaitu: konten, proses, dan konteks. OECD (2013) menjelaskan bahwa PISA membagi konten-konten matematika menjadi 4 yaitu Space and Shape (ruang dan bentuk), Change and Relationships (perubahan dan hubungan), quantity (kuantitas atau jumlah), dan uncertainy (ketidakpastian). Space and Shape (Bentuk dan ruang) berarti tentang bentuk-bentuk dua dimensi dan tiga dimensi termasuk bentuk-bentuk yang berada di kehidupan sehari-hari yang bisa direpresentasikan ke dalam bentuk yang dikenal dalam konsep matematika. Change and Relationships membahas tentang suatu kejadian yang berubah baik secara drastis maupun bertahap, juga tentang hubungan antara dua benda atau kejadian. Quantity berisikan tentang banyaknya suatu benda yang biasanya berupa perhitungan-perhitungan yang menggunakan perkalian yang rumit. Sedangkan uncertainy membahas tentang suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi dengan pasti namun menggunakan logika dan konsep matematika untuk menemukan kepastiannya.
Pembelajaran matematika yang diterapkan di Indonesia, keempat komponen  konten dalam PISA ini mencakup beberapa materi matematika. Space and Shape (ruang dan bentuk) mencakup materi-materi diantaranya adalah: geometri serta letak dan perpindahan. Change and Relationships (perubahan dan hubungan) mencakup materi-materi diantaranya adalah: relasi, persamaan dan fungsi. Quantity (kuantitas atau jumlah) mencakup materi-ateri diantaranya adalah: bilangan, pecahan dan desimal, serta rasio, proporsi, persen. Uncertainy (ketidakpastian) mencakup materi-materi diantaranya adalah: organisasi dan representasi data, menafsirkan data, serta peluang.
Komponen proses dalam studi PISA dimaknai sebagai hal-hal atau langkah-langkah seseorang untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam situasi atau konteks tertentu dengan menggunakan matematika sebagai alat sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan. Kemampuan proses didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam merumuskan (formulate), menggunakan (employ) dan menafsirkan (interpret) matematika untuk memecahkan masalah.
PISA dalam framework literasi matematika memiliki siklus proses yang diperlihatkan pada Gambar 1
Sumber: PISA 2012 Assessment and Analytical Framework, OECD, 2013
Gambar 1.  Siklus literasi matematika dalam praktik PISA 2012

Berdasarkan siklus literasi matematika pada Gambar 1, dapat dijelaskan bahwa literasi matematika berangkat dari permasalahan yang berasal dari dunia nyata (konteks). Penyelesaian masalah secara kontekstual kemudian dilakukan dengan menerapkan tindakan dan gagasan matematis untuk menyelesaikan masalah. Proses penyelesaian masalah ini menjadi penilaian tingkat literasi matematika. Proses literasi matematika diawali dengan melakukan identifikasi masalah kontektual, untuk kemudian merumuskan masalah tersebut secara matematis berdasarkan konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang melekat pada masalah.
Langkah selanjutnya dalam proses literasi matematika adalah menerapkan prosedur matematika untuk memperoleh hasil matematik. Tahapan ini biasanya melibatkan aktivitas  seperti memanipulasi, bernalar, dan menghitung. Hasil matematika yang diperoleh kemudian ditafsirkan kembali dalam bentuk hasil yang berhubungan dengan masalah awal (konteks permasalahan). Setelah menafsirkan kembali kepada masalah awal, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi apakah hasil matematika tersebut tepat digunakan untuk permasalahan tersebut.
Kerangka penilaian literasi matematika dalam PISA 2012 menjabarkan bahwa kemampuan proses memiliki tujuh kemampuan penting, yaitu sebagai berikut (OECD, 2013: 30-32).
  1. Komunikasi. Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk mengkomunikasikan permasalahan sehari-hari (konteks). Kemampuan komunikasi dalam literasi matematika terlihat dari kemampuan menemukan masalah dalam sebuah konteks tertentu yang sedang dihadapi.
  2. Matematisasi. Literasi matematika melibatkan kemampuan matematisasi, yaitu kemampuan mengubah permasalahan yang ditemukan dalam konteks (kehidupan sehari-hari) kedalam bentuk matematika, atau sebaliknya merubah bentuk (persoalan) matematika kedalam kehidupan sehari-hari
  3. Menyajikan kembali. Literasi matematika melibatkan kemampuan menyajikan kembali (representasi) sebuah permasalahan atau sebuah objek matematika melalui cara seperti memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan menggunakan grafik, tabel, Gambar, diagram, rumus, persamaan, maupun benda konkret untuk memotret masalah agar lebih jelas dan detail.
  4. Menalar dan memberi alasan. Literasi matematika melibatkan kemampuan menalar dan memberi alasan, yaitu kemampuan untuk berfikir logis untuk menganalisis informasi yang didapat agar dapat membuat sebuah kesimpulan dan memberikan alasan.
  5. Menggunakan strategi pemecahan masalah. Literasi matematika melibatkan kemampuan menggunakan strategi untuk memecahkan masalah sehari-hari, baik yang terlihat jelas mapun yang membutuhkan startegi yang lebih rumit dalam memecahkan masalah.
  6. Menggunakan simbol, bahasa formal dan teknis. Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk menggunakan simbol, bahasa formal dan teknik dalam matematika untuk memecahkan persoalan sehari-hari di dunia nyata.
  7. Menggunakan alat matematika. Literasi matematika melibatkan kemampuan menggunakan alat matematika misalnya melakukan pengukuran dan pengoperasian matematika.
  8. Komponen konteks dalam studi PISA dimaknai sebagai situasi yang tergambar dalam suatu permasalahan. Permasalahan konteks pribadi dapat berupa permasalahan belanja, kesehatan, olah raga, perjalanan, penyiapan makanan, dan keuangan. Permasalahan konteks pekerjaan contohnya seperti desain gedung, perhitungan harga, pengontrolan kualitas. Contoh permasalahan dalam konteks sosial  seperti pemilihan suara, transportasi umum, kebijakan publik, periklanan, pemerintahan. Sedangkan untuk konteks ilmu pengetahuan seperti cuaca, obat, teknologi, mapuan pengetahuan dan pengukuran yang tercakup dalam materi matematika lainnya.
Pandangat Filsafat Terhadap Literasi Matematika
Pandangan Ontologi Terhadap Literasi Matematika
Menurut Marsigit (2013), filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di semua Negara di dunia ini. Sehingga, literasi matematika pun berkembang sejalan dengan berkembangnya filsafat. Sebagai sebuah kemampuan untuk menemukan, memahami, dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari, Literasi matematika telah memenuhi makna ontologis dari matematika. Yaitu, literasi matematika merupakan usaha memahami keseluruhan dan kenyataan matematika yang ada dan yang mungkin ada disekeliling kita,  dengan kata lain, literasi matematka merupakan segala matematika yang mengada. Maka setiap kejadian disekeliling kita adalah aksioma-aksioma.
Pandangan Epistimologi Terhadap Literasi Matematika
Immanuel Kant dalam Marsigit (2008:12) menjelaskan bahwa awal dari pengetahuan matematika adalah sebuah kesadaran tentang makna matematika. Literasi matematika. Secara epistimologi, maka literasi matematika dapat dimaknai sebagai bahasa analog yang menggunakan simbol-simbol dan bahasa teknik yang dapat digunakan untuk melakukan matematisasi dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, bagaimana seorang anak mampu memahami bahwa ketika ia membeli 2 permen rasa stroberi, dan 1 permen rasa coklat, maka ia akan mempunyai 3 buah permen. Pengalaman anak membeli permen itu merupakan bahasa analog dari operasi matematika penjumlahan.
Pandangan Aksiologi Terhadap Literasi Matematika
Literasi matematika menjadikan alam sebagai laboratorium matematika, sehingga belajar matematika merupakan pengalaman beraktivitas membca, memahami, menduga tanda-tanda alam yang kemudian memiliki nilai-nilai yang bermakna. Hartman dalam Marsigit (2015) menjelaskan nilai merupakan sebuah fenomena atau konsep; nilai sesuatu ditentukan oleh sejauh mana fenomena atau konsep itu sampai kepada makna atau arti. Pandangan filsafat mengistilahkan nilai ini sebagai maksa aksiologi literasi matematika. Bahwa aksioma, bahasa analog matematika harus memiliki nilai-nilai, baik secara instrinsik, ekstrinsik dan sistematis. Jika seseorang menguasai matematika hanya untuk dirinya maka pengetahuan matematikanya bersifat intrinsik; jika dia bisa menerapkan matematika untuk kehidupan seharihari maka pengetahuanmatematika bersifat ekstrinsik; dan jika dia dapat mengembangkan matematika dalam kancah pergaulan masyarakat matematika maka pengetahuan matematikanya bersifat sistemik. (Marsigit, 2011). Karena itu, Literasi maktematika sebagai kemampuan aplikasi matematika untuk kehidupan sehari-hari, memiliki nilai-nilai yang muncul dan akan berdampak bagi kehidupan sehari-hari.

REFERENSI
Marsigit. (2011). “Pengembangan Nilai-nilai Matematika dan Pendidikan Matematika sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa”. Dipresentasikan pada: Seminar Nasional Pengembangan Nilai-nilai dan Aplikasi dalam Dunia Matematika Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Sabtu, 8 Oktober 2011 Di Universitas Negeri Semarang

Marsigit. (2013). “Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics”. https://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegi-menggapai-ontological-foundation.html

National Council of Teacher Mathematics. 2000.  Principles and  Standards for     Schools Mathematics. Reston. VA: NCTM

Ozgen, K. 2012. “An Analysis of High School Students’ Mathematical Literacy Self-efficacy Beliefs in Relation to Their Learning Styles.” Journal The Asian-Pasific Education Researcher, Volume 22, Issue 1, pp 91-100

OECD. 2009. Learning Mathematics for Life A View Perspective From PISA. Paris: The Organisation for Economic Co-operation and Development  Publications

OECD. 2010. PISA 2012 Mathematics Framework. Paris: The Organisation for Economic Co-operation and Development  Publications

Ojose, B. 2011. “Mathematics Literacy: Are We Able To Put The Mathematics We Learn Into Everyday Use?” Journal of Mathematics Education,Volume 4, No. 1, pp. 89-100

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar