Selasa, 31 Desember 2019

DRAFT RENCANA PROPOSAL PADA KULIAH FILSAFAT PROF. DR. MARSIGIT, M.A

PENILAIAN LITERASI MATEMATIKA BERBASIS PENDIDIKAN PENGUATAN KARAKTER BAGIS SISWA TERDAMPAK BENCANA GUNUNG SINABUNG



Postingan ini diajukan sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester
Matakuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 
Semester 1 yang diampu oleh :







Oleh:


Delyanti A. Pulungan 
NIM. 19701261013







PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI 
PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA
2019




JUDUL:
Penilaian Literasi Matematika Berbasis Penguatan Karakter Bagi Siswa 
Terdampak Bencana Gunung Sinabung.


LATAR BELAKANG

        Matematika mengajarkan siswa untuk bisa berpikir logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif. Inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa matematika selalu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan formal. Cara berpikir matematika yang sistematis, dengan membiasakan otak siswa untuk memecahkan masalah kehidupan secara teratur dan runtut sehingga siswa lebih mudah mengetahui apa akar permasalahan, dan bagaimana menemukan solusinya. Mempelajari matematika juga melatih siswa agar cermat dan tidak ceroboh dalam bertindak. Contoh: dalam mengerjakan berbagai kasus matematika siswa harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol di belakang koma, bagaimana bentuk grafiknya, rumus mana yang cocok, operasi apa yang harusnya digunakan dan sebagainya. Bila siswa tidak cermat dalam memasukkan angka, menghitung digit di belakang koma, melihat grafik, menentukan rumus yang sesuai, dan menentukan operasi yang tepat, tentu dapat berakibat fatal. Solusi mungkin tidak akan ditemukan, atau solusi justru akan memperburuk permasalahan.
 Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian. Literasi matematika dikatakan baik apabila ia mampu menganalisis, bernalar, dan mengkomunikasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya secara efektif, serta mampu memecahkan dan menginterpretasikan penyelesaian matematika. Seorang siswa dikatakan mampu menyelesaikan masalah apabila ia mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal. Kemampuan inilah yang biasa dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi. 
          Sebelum dikenalkan melalui PISA, istilah literasi matematika telah dicetuskan oleh NCTM (1989) sebagai salah satu visi pendidikan matematika yaitu menjadi melek/literate matematika. Dalam visi ini literasi matematika dimaknai sebagai “an individual’s ability to explore, to conjecture, and to reason logically as well as to use variety of mathematical methods effectively to solve problems. By becoming literate, their mathematical power should develop”
         Literasi matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, mengunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan lat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif. Pengertian ini mengisyaratkan literasi matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja akan tetapi hingga kepada pengunaan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari. Selain itu, literasi matematika juga menuntut seseorang untuk mengkomunikasikan dan menjelaskan fenomena yang dihadapinya dengan konsep matematika.
        Lebih sederhana, Ojose, B (2011) berpendapat bahwa literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan mengunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, seseorang yang memiliki kemampuan literasi matematika yang baik memiliki kepekaan konsep-konsep matematika mana yang relevan dengan fenomena atau masalah yang sedang dihadapinya. Dari kepekaan ini kemudian dilanjutkan dengan pemecahan masalah dengan mengunkan konsep matematika. Sejalan dengan pendapat tersebut, Stecey & Tuner (2015) mengartikan literasi dalam konteks matematika adalah untuk mememiliki kekuatan untuk mengunakan pemikiran matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Pemikiran matematika yang dimaksudkan meliputi pola pikir pemecahan masalah, menalar secara logis, mengkomunikasikan dan menjelaskan. Pola pikir ini dikembangkan berdasarkan konsep, prosedur, serta fakta matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
        Beberapa waktu yang lalu, Indonesia baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan. Desember 2019 lalu, Indonesia baru saja memperoleh publikasi skor tes PISA 2018 oleh OECD yang diikuti oleh siswa usia minimal 15 tahun atau setingkat SMA kelas X. Di mana skor matematika siswa Indonesia menurun drastis. Hasil dari pengukuran global untuk siswa berusia 15 tahun itu menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Indonesia adalah 379 dalam matematika 379 (Gambar 1.). Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 489 untuk kemampuan matematika. Dalam PISA sebelumnya, tahun 2015, siswa Indonesia mencatatkan rata-rata yang lebih tinggi untuk matematika, yaitu 386. Hasil ini sungguh mengagetkan, terutama karena terjadi setelah digalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2016, di mana literasi matematika juga menjadi fokus pembelajaran. Sayangnya, laporan PISA menjelaskan bahwa penyebab paling signifikan adalah rendahnya kualitas guru dan disparitas mutu pendidikan di Indonesia diduga sebagai penyebab utama buruknya kemampuan literasi siswa secara umum. Tentu ini memperkuat dugaanbahwa ada yang salah dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, sehingga gagal meningkatkan kualitas literasi siswa, khususnya literasi matematika.
               

Gambar 1. Grafik Skor PISA Indonesia Tahun 2018
                                        Sumber: www.databoks.katadata.co.id, 2019

       Berdasarkan data PISA, OECD, diperoleh informasi ada sebanyak 28% siswa Indonesia yang mampu mencapai literate pada level dua. Pada level 2, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis. Sementara, hanya 1% siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas). Dalam level tersebut siswa dapat membuat model situasi yang rumit secara matematis, memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi penyelesaian masalah yang tepat untuk menyelesaikannya (OECD, PISA 2018 Insight and Interpretation)
            Meskipun Gerakan Literasi Sekolah telah disosialisasikan dan diterapkan sejak 2016, masih banyak sekolah yang kesulitan menerapkannya. Terutama sekolah yang berada jauh dari pusat kota, apalagi skeolah yang berada di wilayah terdampak bencana. Salah satunya adalah sekolah yang berada di wilayah terdampak bencana gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sejak tahun 2010, dimana letusan gunung Sinabung yang mengakibatkan 12 ribu warga di sekitarnya dievakuasi ke 8 lokasi dengan menyemburkan debu vulkanis hingga ketinggian 5.000 meter di udara. Bahkan sampai tahun 2019, Sinabung masih terus mengeluarkan abu vulkaniknya. Kondisi itu mengakibatkan banyak sekolah yang bangunannya tak layak pakai. Sehingga, pemerintah daerah berinisiatif mendirikan tenda-tenda sebagai sekolah darurat bagi anak-anak sekitar. Bahkan hingga 2019, masih ada sekolah yang harus menyelenggarakan pendidikannya di beberapa tenda darurat.
        Siswa terdampak bencana terdiskriminasi haknya mendapatkan pembelajaran yang layak, khususnya dalam pemenuhan kompetensi pembelajaran matematika sebagi dampak dari bencana gunung sinabung yang tidak berhenti. Erupsi gunung sinabung yang terus-menerus, merusak proses KBM siswa dan merusakan karakter siswa. Siswa yang dalam waktu lama tinggal dipengungsian, berdampak pada karakter siswa. Kondisi dimana siswa sekolah harus tinggal bersama dengan orang-orang dewasa, membuat karakter siswa berubah. Siswa tidak lagi bersikap sebagaimana anak-anak seusia mereka. Disiplin anak sangat buruk, sopan santun anak juga tidak lagi terlihat, beberapa dari anak juga tidak lagi memiliki tanggung jawab. Siswa sekitar Gunung Sinabung membutuhkan perbaikan karakter melalui proses belajar dan penilaian.
        Kondisi ini tentu membuat sekolah kesulitan untuk menerapkan Gerakan Literasi Sekolah. Khusus untuk Literasi Matematika, tentu guru dan siswa memiliki keterbatasan dalam membelajarkannya diakibatkan proses belajar yang terganggu. Kondisi ini seharusnya menjadi pertimbangan bahwa Kompetensi literasi matematika siswa di daerah sekitar Gunung Sinabung tidak bisa disamakan dengan kompetensi siswa di daerah lain dengan suasana dan prasaranan belajar yang lebih memadai. Begitupun, bukan berarti kompetensi literasi matematika tidak bisa dibelajarkan kepada mereka. Perlu adanya prototype penilaian literasi matematika yang khusus bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung.
       Kondisi sekitar siswa terdampak bencana gunung sinabung dapat dimanfaatkan sebagai konteks dalam mengembangkan literasi matematika siswa melalui penilaian literasi matematika berbasis pembentukan karakter. Ide pemerintah tentang Komeptensi Minimal sangat sejalan dengan ide penelitian ini. Dimana memang seharusnya setiap daerah yang memiliki disparitas mutu pendidikan yang signifikan harus memiliki kompetensi masing-masing. Termasuk kompetensi minimal pada literasi matematika di setiap daerah tentu berbeda. Dengan kondisi lingkungan yang tidak kondusif di daerah sekitar Gunung Sinabung, perlu direncanakan atau di konstruksi ulang bagaimana literasi matematika minimal yang harus dimiliki siswa. Selain itu, kondisi yang serba darurat juga tidak bisa menjadikan alasan tidak terbentuknya karakter siswa yang seharusnya. Sehingga, dengan penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter menjadi sangat dibutuhkan bagi siswa sekolah di sekitar wilayah tedampak bencana gunung Sinabung.
        Berdasarkan latar belakang msalah yang telah dijabarkan, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana kompetensi minimal literasi matematika bagi siswa terdampak gunung sinabung.
  2. Bagaimana pengembangan penilaian literasi matematika berbasis penguatanpendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung?
  3. Bagaimana karakteristik instrumen penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung?
  4. Bagaimana efektivitas penilaian literasi matematika berbasis penguatan pendidikan karakter bagi siswa terdampak bencana gunung Sinabung yang dikembangkan?
METODOLOGI

1. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D). R&D merupakan model pengembangan dimana penelitiannya digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru yang diuji di lapangan, dievaluasi, dan disempurnakan hingga memenuhi kriteria tertentu Borg & Gall (2003). Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah instrument penilaian literasi matematika siswa berbaasis penguatan karakter bagi siswa terdampak gunung sinabung.

2. Prosedur Pengembangan Instrumen Penilaian
Prosedur pengambangn instrument akan mengadopsi langkah-langkah pengembangan instrument yang dikemukakan oleh Azwar (2014), yaitu dapat dilihat pada Gambar 2. berikut:


Gambar 2. Grafik Skor PISA Indonesia Tahun 2018


3. Instrumen yang Dikembangkan. Instrumen yang akan dikembangkan pada penelitian ini terdiri dari:
              a. Instrumen Analisis Kebutuhan
              b. Instrumen Validasi Ahli (Expert Judgement)
              c. Instrumen Penilaian Literasi Matematika : Tes, Lembar Observasi, dan Angket
        d. Instrumen Efektivitas Penilaian untuk Guru, dan Siswa 

 4. Subjek Ujicoba
Siswa Minimal Kelas IX SMP di sesiswar wilayah terdampak Erupsi Gunung Sinabung, yaitu 4 kecamatan : Simpang Empat, Brastagi, Dolat Rakyat, dan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jumlah subjek ujicoba minimal 200 siswa.

5. Teknik Analisis Data
a.       Analisis Kualitatif Instrumen : akan dianalisis validitas isi oleh ahli (expert judgment) yang pakar dalam bidang: Pengukuran, Matematika, Bahasa, Psikologi dan Karakter.
b.      Analisis Kuantitatif: akan dianalisis dengan pendekatan IRT untuk mengetahui validitas, dan reliabilitas empiris serta mengetahui karakteristik butir dan kemampuan siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Marsigit. (2011). “Pengembangan Nilai-nilai Matematika dan Pendidikan Matematika sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa”. Dipresentasikan pada: Seminar Nasional Pengembangan Nilai-nilai dan Aplikasi dalam Dunia Matematika Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Sabtu, 8 Oktober 2011 Di Universitas Negeri Semarang
Marsigit. (2013). “Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics”. https://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegi-menggapai-ontological-foundation.html
National Council of Teacher Mathematics. 2000. Principles and Standards for Schools Mathematics. Reston. VA: NCTM
Ozgen, K. 2012. “An Analysis of High School Students’ Mathematical Literacy Self-efficacy Beliefs in Relation to Their Learning Styles.” Journal The Asian-Pasific Education Researcher, Volume 22, Issue 1, pp 91-10
OECD, PISA 2012 Assesment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy, Paris: OECD Publisher, 2013.
NCTM, Curriculum and evaluation standards for school mathematics, Reston: NCTM, 1989
Ojose, B. Mathematics Literacy: Are We Able To Put The Mathematics We Learn Into Everyday Use? Journal of Mathematics Education. Vol 4, No. 1, p 89-100, 2011
Stecey, K & Tuner, R., Assessing Mathematical Literacy: The PISA experience, Australia: Springer, 2015
Steen, L., & Turner, R., Developing Mathematical Literacy. In Blum, W., Galbraith, P., Henn, H-W., & Niss, M (Eds), Modeling and Aplication in Mathematics Education- The 14th ICMI Study (pp. 285 - 294). New York: Springer.2007
De Lange, Mathematical Literacy for Living from OECD-PISA Perspective. Tsukuba Journal of Educational Study in Mathematics, 25, p 13-35, 2006.
De Lange, J., Mathematic for Literacy. Dalam Madison, B., & Steen, L. (Eds), Quantitative Literacy: Why Numeracy Matters for School and Cholleges.(pp. 75–89). USA: National Council on Education and the Diciplines, 2003.

Fokus Permasalahan Terkait Rencana Disertasi Pada Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A

     Berdasarkan psotingan sebelumnya tentang Identifikasi Masalah Pembelajaran Matematika di Sekolah, paling tidak ada 5 masalah yang paling menarik dan dinilai dapat memberikan kontribusi untuk penulis angkat sebagai tema bahkan rencana judul Disertasi, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Permasalahan Poin 6:
"Pemaham dasar matematika siswa rendah". Ternyata, masih banyak ditemukan bahwa siswa sangat kurang dalam pemahaman dasar operasi-operasi matematika. Cukup mengejutkan ketika masalah ini ditemukan pada siswa tingkat SMA. Informasi yang diperoleh, bahkan siswa kesulitan mengoperasikan operasi postif dan negatif. 

2. Permasalahan Poin 9: "Siswa Sulit Menyelesaikan soal dengan konteks". Siswa kesulitan mengerjakan soal matematika dengan konteks. Mereka lebih mudah mengerjaan soal yang langsung pada perhitungan notasi matematis. Tetapi persoalan matematis diberikan dalam konteks tertnetu, siswa kebingungan menggunakan konsep matematika. Masalah ini, menarik perhatian penulis untuk membuat judul terkait dengan pengembangan soal berkonteks, yang kaitannya juga dengan Literasi Matematika siswa

3. Permasalahan Poin 11: "Kemampuan siswa menemukan notasi matematika yang tepat". Siswa kesulitan menggunakan notasi matematika untuk menyelesaiakn persoalan sehari-hari. Salah satunya disebabkan karena soal-soal di buku juga terkadang jauh dari konteks keseharian siswa. Sehingga siswa kurang ilustrasi dalam menyelesaiakn soal. 

4. Permasalahan Poin 12: Soal Esay menyulitkan siswa Siswa lebih suka mengerjakan tes matematika bentuk Objektif Pilihan Ganda dibandingkan Esai. Karena siswa punya pilihan kemungkinan jawaban, dan tidak perlu menjawarkan proses penyelesaian. Siswa kesulitan mengerjakan soal-soal matematika dengan redaksi yang panjang. (soal cerita). Apalagi kalau ceritanya tidak familiar dengan lingkungan siswa. 

5. Permasalahan Poin 10: "Kondisi Kemampuan dan Karakter Siswa terdampak Bencana" Anak-anak di wilayah terdampak gunung sinabung, sangat rendah kemampuan matematikanya, bahkan untuk konsep-konsep dasar. Aplikasi notasi matematika sangat kurang jika harus menyelesaikan persoalan berkonteks. Bencana yang terus-menerus membuat siswa semakin tertinggal dalam pembelajaran matematika. Sikap siswa sulit dikendalikan karena beberapa masih ada yang tinggal dipengungsian sehingga karakter anak bercampur dengan orang dewasa yang tak terkendali Siswa belajar di sekolah-sekolah darurat disekitar pengungsian, membuat guru kesulitan mengendalikan sikap siswa.










Tugas Akhir Kuliah Filsafat Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A: SKOR PISA INDONESIA 2018 MEROSOT, APA YANG SALAH?


LITERASI MATEMATIKA PISA INDONESIA 2018 MEROSOT, APA YANG SALAH?
(Identifikasi Masalah Pembelajaran Matematika di Sekolah)

Oleh:

Delyanti Azzumario Pulungan
(NIM. 19701261013)

Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, S3
Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta 


*) Postingan ini diajukan sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester
Matakuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 
Semester 1 yang diampu oleh :

      Kata “matematika” tentu bukan sebuah kata yang aneh dan asing bagi siswa semua. Kata “Matematika” sudah sering siswa dengar, bahkan sejak kecil. Khususnya di dunia pendidikan formah, matematika menjadi mata pelajaran pokok yang harus dibelajarkan kepada siswa. Matematika juga menjadi satu diantara mata pelajaran yang diujiankan secara nasional mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA. Bahkan, proses seleksi perguruan tinggi juga selekasi Calon Pegawai Negeri Sipil juga menjadikan matematika sebagai satu pokok konten yang harus diujikan. Hal ini menguatkan bahwa matematika menjadi salah satu standar kriteria kelayakan siswa. Saya sebut “Salah Satu” karena memang tidak bisa siswa menjadikan matematiak sebagai satu-satunya kriteria. Ada banyak factor dan kriteria lain tentunya yang bisa dijadikan kriteria kelayakan dan kecakapan kompetensi siswa.
       Tentu ada faktor penyebab mengapa matematika kerap digunakan sebagai standar kriteria. Barangkali karena matematika memang menjadi kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak persoalan sehari-hari yang dapat dipecahkan dengan menggunakan pendekatan matematis. Tak sedikit yang menilai bahwa matematika hanya sebatas persoalan angka-anagka dan rumus-rumus yang membingungkan. Padahal, sesungguhnya di dalam notasi dan konsep matematika, terdapat penalaran yang dapat dimanfaatkan untuk memaknai berbagai kondisi kehidupan sehari-hari serta menyelesaikan berbagai persoalan yang dekat dengan sosial manusia.
       Matematika mengajarkan siswa untuk bisa berpikir logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif. Inilah yang menjadi salah satu alasan, mengapa matematika selalu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan formal. Cara berpikir matematika yang sistematis, dengan membiasakan otak siswa untuk memecahkan masalah kehidupan secara teratur dan runtut sehingga siswa lebih mudah mengetahui apa akar permasalahan, dan bagaimana menemukan solusinya. Mempelajari matematika juga melatih siswa agar cermat dan tidak ceroboh dalam bertindak. Contoh: dalam mengerjakan berbagai kasus matematika siswa harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol di belakang koma, bagaimana bentuk grafiknya, rumus mana yang cocok, operasi apa yang harusnya digunakan dan sebagainya. Bila siswa tidak cermat dalam memasukkan angka, menghitung digit di belakang koma, melihat grafik, menentukan rumus yang sesuai, dan menentukan operasi yang tepat, tentu dapat berakibat fatal. Solusi mungkin tidak akan ditemukan, atau solusi justru akan memperburuk permasalahan.
       Beberapa waktu yang lalu, Indonesia baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan. Desember 2019 lalu, Indonesia baru saja memperoleh publikasi skor tes PISA 2018 oleh OECD yang diikuti oleh siswa usia minimal 15 tahun atau setingkat SMA kelas X. Dimana skor matematika siswa Indonesia menurun drastis. Hasil dari pengukuran global untuk siswa berusia 15 tahun itu menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Indonesia adalah 379 dalam matematika 379. Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 489 untuk kemampuan matematika. Dalam PISA sebelumnya, tahun 2015, siswa Indonesia mencatatkan rata-rata yang lebih tinggi untuk matematika, yaitu 386. Hasil ini sungguh mengagetkan, terutama karena terjadi setelah digalakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2016, di mana literasimatematika juga menjadi fokus pembelajaran. Sayangnya, laporan PISA menjelaskan bahwa penyebab paling signifikan adalah rendahnya kualitas guru dan disparitas mutu pendidikan di Indonesia diduga sebagai penyebab utama buruknya kemampuan literasi siswa secara umum. Tentu ini memperkuat dugaanbahwa ada yang salah dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, sehingga gagal meningkatkan kualitas literasi siswa, khususnya literasi matematika. 
       Begitupun sebagai memperkuat dugaan tersebut, saya kemudian melakukan Tanya jawab singkat kepada beberapa guru di Kota Medan. Saya rasa, memperoleh informasi langsung dari guru sekolah menjadikan informasi lebih berimbang. Berdasarkan informasi dari para guru, informasi diperoleh justru ada banyak masalah dalam pembelajaran matematika siswa yang dialami guru selama dikelas. Diantaranya adalah sebagai berikut: 

1. Rendahnya Pemahaman Konsep 
Sepertinya, permasalahan rendahnya pemahaman konsep siswa menjadi factor utama rendahnya kemampuan matematika siswa. Informasi diperoleh bahwa siswa kesulitan menyelesaikan soal-soal yang memiliki konsep yang sama, tetapi berbeda konteks dengan contoh yang diberikan siswa. Siswa sulit menyelesaikan soal, ketika soalnya berbeda dengan contoh, padahal masih menggunakan konsep yang sama. Ini membuktikan pemahaman konsep siswa sangat rendah. 

2. Resiliensi siswa Rendah 
Resiliensi yang dimaksud adalah kemampuan mental siswa untuk kembali fokus dan mencari tahu solusi dari soal matematika yang dianggap sulit. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari seorang Guru bernama Abdurahim yang mengajar di SMA Swasta di Kota Medan, siswa memiliki mental yang lemah ketika menemukan soal yang tidak bias dikerjakan. Biasanya mereka langsung cepat menyerah, mencari jawaban dari temannya. Tidak ada usaha bertanya dengan guru atau berkumpul dan berdiskusi dengan teman-teman. Ini menjadi masalah terbanyak kedua yang penulis temukan. 

3. Malas Menjabarkan Proses 
Selanjutnya, masalah yang ditemukan dari siswa-siswa yang memiliki pengetahuan dalam mengoperasikan matematika dan menggunakannya untuk penyelesaian soal, tetapi malas untuk menjabarkannya. Persoalan ini biasanya ditemukan pada siswa-siswa yang memilik kemampuan matematika baik, sehingga langsung memilih penyelesaian yang singkat. Maka kemampuan proses matematis siswa tidak bisa diukur. Kondisi ini membuat guru kesulitas m 
anggapan semua anak punya kemampuan awal yang sama. Selain itu, siswa engidentifikasi level kognitif siswa. Akibatnya evaluasi pembelajaran selanjutnya tidak sempurnah dilakukan. 

4. Perbedaan Kemampuan Siswa 
Dalam satu kelas, hal yang tidak bias dipungkiri adalah bahwa tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama. Perbedaan kemampuan ini, tentu menyulitkan bagi siswa dalam pembelajaran. Apalagi, kemampuan guru mengajar juga terbatas. Akhirnya guru mengajar dengan juga tidak memiliki inisiatif untuk belajar secara mandiri sehingga dapat menyamakan kemampuan dengan teman-teman yang lebih unggul. Poin ini mungkin yang dimaksud oleh temuan PISA bahwa disparitas kemampuan siswa menjadi penyebab rendahnya skor literasi matematika siswa pada PISA 2018. 

5. Kompetensi pencapaian pembelajaran siswa sulit untuk disamakan. 
Kesulitan menyetarakan kompetensi siswa ini, ternyata berdampak pada pembelajaran yang sulit dilaksanakan dengan sama rata. Guru kesulitan menemukan pendekatan pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir semua level kompetensi.

6. Pemaham dasar matematika siswa rendah. 
Ternyata, masih banyak ditemukan bahwa siswa sangat kurang dalam pemahaman dasar operasi-operasi matematika. Cukup mengejutkan ketika masalah ini ditemukan pada siswa tingkat SMA. Informasi yang diperoleh, bahkan siswa kesulitan mengoperasikan operasi postif dan negatif.

7. Rendahnya Kreasi dan Inovasi Guru 
Guru tidak bersemangat untuk berkreasi dan inovasi dalam pembelajaran, karena tuntutan administrasi yang banyak. Guru-guru di Sekolah di daerah bahkan menjadikan mengajar sebagai sampingan dan lebih focus mengerjakan hal lain, berbisnis misalnya. Karena kompensasi guru di daerah, terutama guru swasta itu sangat minim

8. Rendahnya dukungan keluarga terhadap pembelajaran siswa dirumah juga kurang. 
Sehingga siswa hanya punya waktu dan tempat untuk belajar di sekolah. Di rumah mereka kesulitan mengulang karena keluarga tidak mampu mendukung, disebabkan berbagai keterbatasan. Terutama keterbatasan orang tua dalam pengetahuan pembelajaran siswa.

9. Siswa Sulit Menyelesaikan soal dengan konteks 
Siswa kesulitan mengerjakan soal matematika dengan konteks. Mereka lebih mudah mengerjaan soal yang langsung pada perhitungan notasi matematis. Tetapi persoalan matematis diberikan dalam konteks tertnetu, siswa kebingungan menggunakan konsep matematika

10. Kondisi Kemampuan Siswa terdampak Bencana 
Anak-anak di wilayah terdampak gunung sinabung, sangat rendah kemampuan matematikanya, bahkan untuk konsep-konsep dasar. Aplikasi notasi matematika sangat kurang jika harus menyelesaikan persoalan berkonteks. Bencana yang terus-menerus membuat siswa semakin tertinggal dalam pembelajaran matematika. Sikap siswa sulit dikendalikan karena beberapa masih ada yang tinggal dipengungsian sehingga karakter anak bercampur dengan orang dewasa yang tak terkendali Siswa belajar di sekolah-sekolah darurat disekitar pengungsian, membuat guru kesulitan mengendalikan sikap siswa.

11. Kemampuan siswa menemukan notasi matematika yang tepat 
Siswa kesulitan menggunakan notasi matematika untuk menyelesaiakn persoalan sehari-hari. Salah satunya disebabkan karena soal-soal di buku juga terkadang jauh dari konteks keseharian siswa. Sehingga siswa kurang ilustrasi dalam menyelesaiakn soal.

12. Soal Esay menyulitkan siswa 
Siswa lebih suka mengerjakan tes matematika bentuk Objektif Pilihan Ganda dibandingkan Esai. Karena siswa punya pilihan kemungkinan jawaban, dan tidak perlu menjawarkan proses penyelesaian. Siswa kesulitan mengerjakan soal-soal matematika dengan redaksi yang panjang. (soal cerita). Apalagi kalau ceritanya tidak familiar dengan lingkungan siswa.

13. Pengalaman Nyata Dalam Belajar Matematika Rendah. 
Pembelajaran matematika belum melibatkan aktivitas luar ruangan yang membutuhkan gerak fisik siswa, sehingga matematika yang abstrak sulit dipahami siswa untuk diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Padahal, belajar matematika tidak hanya selalu tentang teoritis, tetapi juga praktik di lapangan. 

14. Moral siswa rendah. Siswa sering bersikap tidak sopan dengan guru. 
Persoalan moral ini ternyata juga berdampak pada proses pembelajaran. Siswa dengan moral (karakter) yang buruk, membuat situasi belajar tidak kondusif, dan menganggu guru dalam menyelesaiakn proses pembelajaran di dalam kelas

15. Guru di Kejar Penyelesaian kompetensi siswa. 
Kompetensi yang banyak, materi pembelajaran yang banyak, dengan perbedaan kompetensi/kemampuan awal yang dimiliki siswa di kelas membuat guru tidak maksimal mengajarkan setiap bab/materi pembelajaran matematika. Bahakan terpaksa lompat-lompat, atau hanya fokus pada materi-materi yang dinilai masuk dalam ujian nasional. Sementara bab yang tidak masuk dalam ujian nasional diajarkan seadanya, bahkan tidak disampaikan sama sekali.

Yogyakarta, Desember 2019.



Tugas Akhir Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A. : Nilai Filsafat Dalam Literasi Matematika

Literasi Matematika
Literasi matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian pertanyaan (problem posing), merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada (Kusumah, 2012: 93). Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, memahami sekaligus mengaplikasikan matematika dalam persoalan kehidupan sehari-hari sebagai kontribusinya menjadi anggota masyarakat yang cerdas dan berbudi luhur (Zulkardi, 2003: 1-6). Organisation for Economic  Co-operation and Development (OECD) menyatakan bahwa literasi matematika adalah kemampuan individu untuk mengenal dan memahami peran matematika di dunia untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mempergunakan matematika untuk solusi dari kebutuhan hidup hari ini dan masa depan sebagai warga negara yang konstruktif, peduli dan reflektif (OECD, 2013: 25).
Berdasarkan pengertian literasi matematika diketahui bahwa literasi matematika dapat membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika untuk kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan yang tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli dan berpikir. Oleh karena itu, literasi matematika dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang individu untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk didalamnya bernalar secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika dalam menjelaskan serta memprediksikan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
PISA (Programme International Student Assessment) merupakan salah satu program kerjasama beberapa negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) untuk melakukan pengukuran sejauh mana siswa-siswa yang berusia 15 tahun, siap untuk menghadapi berbagai tantangan hidup yang membutuhkan kemampuan literasi matematika. Usia 15 tahun dipilih karena pada usia ini kebanyakan siswa-siswa di negara OECD sedang memasuki tahap akhir dari wajib belajar. Pada usia ini pula saat yang tepat untuk mengukur pengetahuan, keterampilan serta sikap siswa yang telah terakumulasi melalui proses pendidikan hampir mencapai 10 tahun. Keterampilan-keterampilan yang dikuasainya menggambarkan kemampuan siswa untuk melanjutkan proses belajar dalam hidupnya dengan cara mengaplikasikan, memilih dan membuat keputusan berdasarkan   apa yang telah mereka pelajari di dalam lingkungan sekolah ataupun non sekolah.
Tujuan PISA dalam literasi matematika ialah mengembangkan indikator yang menunjukkan seberapa efektif negara-negara yang terlibat dalam menyiapkan siswa dalam menggunakan matematika disetiap aspek kehidupan pribadi, masyarakat, dan profesi sebagai bagian dari anggota masyarakat yang perduli dan konstruktif (OECD, 2013: 24)
Literasi matematika yang dikembangkan oleh PISA memiliki 3 komponen yaitu: konten, proses, dan konteks. OECD (2013) menjelaskan bahwa PISA membagi konten-konten matematika menjadi 4 yaitu Space and Shape (ruang dan bentuk), Change and Relationships (perubahan dan hubungan), quantity (kuantitas atau jumlah), dan uncertainy (ketidakpastian). Space and Shape (Bentuk dan ruang) berarti tentang bentuk-bentuk dua dimensi dan tiga dimensi termasuk bentuk-bentuk yang berada di kehidupan sehari-hari yang bisa direpresentasikan ke dalam bentuk yang dikenal dalam konsep matematika. Change and Relationships membahas tentang suatu kejadian yang berubah baik secara drastis maupun bertahap, juga tentang hubungan antara dua benda atau kejadian. Quantity berisikan tentang banyaknya suatu benda yang biasanya berupa perhitungan-perhitungan yang menggunakan perkalian yang rumit. Sedangkan uncertainy membahas tentang suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi dengan pasti namun menggunakan logika dan konsep matematika untuk menemukan kepastiannya.
Pembelajaran matematika yang diterapkan di Indonesia, keempat komponen  konten dalam PISA ini mencakup beberapa materi matematika. Space and Shape (ruang dan bentuk) mencakup materi-materi diantaranya adalah: geometri serta letak dan perpindahan. Change and Relationships (perubahan dan hubungan) mencakup materi-materi diantaranya adalah: relasi, persamaan dan fungsi. Quantity (kuantitas atau jumlah) mencakup materi-ateri diantaranya adalah: bilangan, pecahan dan desimal, serta rasio, proporsi, persen. Uncertainy (ketidakpastian) mencakup materi-materi diantaranya adalah: organisasi dan representasi data, menafsirkan data, serta peluang.
Komponen proses dalam studi PISA dimaknai sebagai hal-hal atau langkah-langkah seseorang untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam situasi atau konteks tertentu dengan menggunakan matematika sebagai alat sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan. Kemampuan proses didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam merumuskan (formulate), menggunakan (employ) dan menafsirkan (interpret) matematika untuk memecahkan masalah.
PISA dalam framework literasi matematika memiliki siklus proses yang diperlihatkan pada Gambar 1
Sumber: PISA 2012 Assessment and Analytical Framework, OECD, 2013
Gambar 1.  Siklus literasi matematika dalam praktik PISA 2012

Berdasarkan siklus literasi matematika pada Gambar 1, dapat dijelaskan bahwa literasi matematika berangkat dari permasalahan yang berasal dari dunia nyata (konteks). Penyelesaian masalah secara kontekstual kemudian dilakukan dengan menerapkan tindakan dan gagasan matematis untuk menyelesaikan masalah. Proses penyelesaian masalah ini menjadi penilaian tingkat literasi matematika. Proses literasi matematika diawali dengan melakukan identifikasi masalah kontektual, untuk kemudian merumuskan masalah tersebut secara matematis berdasarkan konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang melekat pada masalah.
Langkah selanjutnya dalam proses literasi matematika adalah menerapkan prosedur matematika untuk memperoleh hasil matematik. Tahapan ini biasanya melibatkan aktivitas  seperti memanipulasi, bernalar, dan menghitung. Hasil matematika yang diperoleh kemudian ditafsirkan kembali dalam bentuk hasil yang berhubungan dengan masalah awal (konteks permasalahan). Setelah menafsirkan kembali kepada masalah awal, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi apakah hasil matematika tersebut tepat digunakan untuk permasalahan tersebut.
Kerangka penilaian literasi matematika dalam PISA 2012 menjabarkan bahwa kemampuan proses memiliki tujuh kemampuan penting, yaitu sebagai berikut (OECD, 2013: 30-32).
  1. Komunikasi. Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk mengkomunikasikan permasalahan sehari-hari (konteks). Kemampuan komunikasi dalam literasi matematika terlihat dari kemampuan menemukan masalah dalam sebuah konteks tertentu yang sedang dihadapi.
  2. Matematisasi. Literasi matematika melibatkan kemampuan matematisasi, yaitu kemampuan mengubah permasalahan yang ditemukan dalam konteks (kehidupan sehari-hari) kedalam bentuk matematika, atau sebaliknya merubah bentuk (persoalan) matematika kedalam kehidupan sehari-hari
  3. Menyajikan kembali. Literasi matematika melibatkan kemampuan menyajikan kembali (representasi) sebuah permasalahan atau sebuah objek matematika melalui cara seperti memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan menggunakan grafik, tabel, Gambar, diagram, rumus, persamaan, maupun benda konkret untuk memotret masalah agar lebih jelas dan detail.
  4. Menalar dan memberi alasan. Literasi matematika melibatkan kemampuan menalar dan memberi alasan, yaitu kemampuan untuk berfikir logis untuk menganalisis informasi yang didapat agar dapat membuat sebuah kesimpulan dan memberikan alasan.
  5. Menggunakan strategi pemecahan masalah. Literasi matematika melibatkan kemampuan menggunakan strategi untuk memecahkan masalah sehari-hari, baik yang terlihat jelas mapun yang membutuhkan startegi yang lebih rumit dalam memecahkan masalah.
  6. Menggunakan simbol, bahasa formal dan teknis. Literasi matematika melibatkan kemampuan untuk menggunakan simbol, bahasa formal dan teknik dalam matematika untuk memecahkan persoalan sehari-hari di dunia nyata.
  7. Menggunakan alat matematika. Literasi matematika melibatkan kemampuan menggunakan alat matematika misalnya melakukan pengukuran dan pengoperasian matematika.
  8. Komponen konteks dalam studi PISA dimaknai sebagai situasi yang tergambar dalam suatu permasalahan. Permasalahan konteks pribadi dapat berupa permasalahan belanja, kesehatan, olah raga, perjalanan, penyiapan makanan, dan keuangan. Permasalahan konteks pekerjaan contohnya seperti desain gedung, perhitungan harga, pengontrolan kualitas. Contoh permasalahan dalam konteks sosial  seperti pemilihan suara, transportasi umum, kebijakan publik, periklanan, pemerintahan. Sedangkan untuk konteks ilmu pengetahuan seperti cuaca, obat, teknologi, mapuan pengetahuan dan pengukuran yang tercakup dalam materi matematika lainnya.
Pandangat Filsafat Terhadap Literasi Matematika
Pandangan Ontologi Terhadap Literasi Matematika
Menurut Marsigit (2013), filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di semua Negara di dunia ini. Sehingga, literasi matematika pun berkembang sejalan dengan berkembangnya filsafat. Sebagai sebuah kemampuan untuk menemukan, memahami, dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari, Literasi matematika telah memenuhi makna ontologis dari matematika. Yaitu, literasi matematika merupakan usaha memahami keseluruhan dan kenyataan matematika yang ada dan yang mungkin ada disekeliling kita,  dengan kata lain, literasi matematka merupakan segala matematika yang mengada. Maka setiap kejadian disekeliling kita adalah aksioma-aksioma.
Pandangan Epistimologi Terhadap Literasi Matematika
Immanuel Kant dalam Marsigit (2008:12) menjelaskan bahwa awal dari pengetahuan matematika adalah sebuah kesadaran tentang makna matematika. Literasi matematika. Secara epistimologi, maka literasi matematika dapat dimaknai sebagai bahasa analog yang menggunakan simbol-simbol dan bahasa teknik yang dapat digunakan untuk melakukan matematisasi dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, bagaimana seorang anak mampu memahami bahwa ketika ia membeli 2 permen rasa stroberi, dan 1 permen rasa coklat, maka ia akan mempunyai 3 buah permen. Pengalaman anak membeli permen itu merupakan bahasa analog dari operasi matematika penjumlahan.
Pandangan Aksiologi Terhadap Literasi Matematika
Literasi matematika menjadikan alam sebagai laboratorium matematika, sehingga belajar matematika merupakan pengalaman beraktivitas membca, memahami, menduga tanda-tanda alam yang kemudian memiliki nilai-nilai yang bermakna. Hartman dalam Marsigit (2015) menjelaskan nilai merupakan sebuah fenomena atau konsep; nilai sesuatu ditentukan oleh sejauh mana fenomena atau konsep itu sampai kepada makna atau arti. Pandangan filsafat mengistilahkan nilai ini sebagai maksa aksiologi literasi matematika. Bahwa aksioma, bahasa analog matematika harus memiliki nilai-nilai, baik secara instrinsik, ekstrinsik dan sistematis. Jika seseorang menguasai matematika hanya untuk dirinya maka pengetahuan matematikanya bersifat intrinsik; jika dia bisa menerapkan matematika untuk kehidupan seharihari maka pengetahuanmatematika bersifat ekstrinsik; dan jika dia dapat mengembangkan matematika dalam kancah pergaulan masyarakat matematika maka pengetahuan matematikanya bersifat sistemik. (Marsigit, 2011). Karena itu, Literasi maktematika sebagai kemampuan aplikasi matematika untuk kehidupan sehari-hari, memiliki nilai-nilai yang muncul dan akan berdampak bagi kehidupan sehari-hari.

REFERENSI
Marsigit. (2011). “Pengembangan Nilai-nilai Matematika dan Pendidikan Matematika sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa”. Dipresentasikan pada: Seminar Nasional Pengembangan Nilai-nilai dan Aplikasi dalam Dunia Matematika Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Sabtu, 8 Oktober 2011 Di Universitas Negeri Semarang

Marsigit. (2013). “Elegi Menggapai "Ontological Foundation of Mathematics”. https://powermathematics.blogspot.com/2013/04/elegi-menggapai-ontological-foundation.html

National Council of Teacher Mathematics. 2000.  Principles and  Standards for     Schools Mathematics. Reston. VA: NCTM

Ozgen, K. 2012. “An Analysis of High School Students’ Mathematical Literacy Self-efficacy Beliefs in Relation to Their Learning Styles.” Journal The Asian-Pasific Education Researcher, Volume 22, Issue 1, pp 91-100

OECD. 2009. Learning Mathematics for Life A View Perspective From PISA. Paris: The Organisation for Economic Co-operation and Development  Publications

OECD. 2010. PISA 2012 Mathematics Framework. Paris: The Organisation for Economic Co-operation and Development  Publications

Ojose, B. 2011. “Mathematics Literacy: Are We Able To Put The Mathematics We Learn Into Everyday Use?” Journal of Mathematics Education,Volume 4, No. 1, pp. 89-100

 


Selasa, 24 Desember 2019

Tugas Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A. : Pendekatan Filsafat dalam Literasi Matematika


            Belajar filsafat bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A, melatih kami untuk mulai memandang setiap konten studi dari aspek filosofisnya. Sehingga kami semakin mampu mendalami hakikat yang ingin dibelajajarkan dari konten tersebut. Sama halnya seperti Literasi matematika, sudut pandang filsafat membuat kita lebih memahami apa dan mengapa Literasi Matematika penting untuk dibelajarkan pada siswa.
        Kompetensi matematika memiliki beberapa kemampuan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa. Diantaranya adalah literasi matematika. Literasi matematika dimaknai sebagai sebuah pengetahuan untuk mengetahui dan menerapkan konsep matematika dasar setiap hari, tidak hanya pengetahuan akademik tetapi juga pengetahuan aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari (Ojose, 2011). Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) melakukan uji literasi matematika kepada siswa usia minimal 15 tahun, atau setingkat siswa sekolah menengah. Sebagai salah satu Negara peserta uji, Indonesia masih berada di peringkat bawah. Khususnya pada uji Literasi Matematika, PISA mencatat posisi Indonesia berada di urutan ke 62 dari 70 negara peserta (OECD, 2016).
            Pemahaman yang berkembang selama ini, termasuk yang ada pada guru matematika, bahwa matematika adalah materi yang berkutat tentang angka dan operasinya. Padahal, belajar matematika sesungguhnya adalah bagaimana semua aktivitas sehari-hari dapat dirumuskan, dijalankan, dan diselesaikan berbagai permasalahannya dengan menggunakan matematika. Bentuk matematika inilah yang dapat diistilahkan dengan matematika non angka. Perimbangan antara matematika angka dan matematika non-angka penting dalam pelajaran matematika yang dikembangkan dalam kurikulum 2013. Literasi matematika sangat dibutuhkan untuk memahami matematika non-angka, misalnya dalam membaca suatu informasi, mulai dari mengidentifikasi, memahami masalah dan membuat suatu keputusan untuk menetapkan cara penyelesaiannya. Literasi Matematika adalah pengetahuan matematika, metode, dan proses yang diterapkan dalam berbagai konteks dalam wawasan dan cara reflektif  (Syahlan, 2015). Menurut de Lange (Ronda, 2011), literasi matematika adalah keaksaraan menyeluruh yang meliputi berhitung, kesadaran terhadap literasi kuantitatif dan literasi spasial, seperti yang ditunjukan oleh skema pada Gambar 1.



  Literasi Matematika Sebagai Kemampuan Memahami Ruang (Spatial Literacy)
            Pada umumnya kesulitan siswa dalam memahami konsep spasial adalah kurangnya kegiatan siswa dalam pembelajaran. Siswa minim kegiatan dalam membuat produk-produk belajar, atau rendahnya pemanfaatan media yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan siswa. Kegiatan pembelajaran yang aktif akan membuat siswa lebih tertarik belajar dan dapat menumbuhkan kreativitas. Sebagai perguruan tinggi terbaik di Amerika Serikat, Carleton College telah merumuskan bahwa “Spatial literacy is the ability to use the properties of space to communicate, reason, and solve problems,” yang berarti bahwa spatial literacy adalah kemampuan untuk menggunakan sifat-sifat ruang dalam berkomunikasi, memberikan alasan serta memecahkan masalah. Literasi spasial memberdayakan individu untuk memahami dunia tiga dimensi di mana ia tinggal dan bergerak. Hal ini membutuhkan pemahaman tentang sifat benda, posisi relatif objek dan pengaruhnya terhadap persepsi visual seseorang, penciptaan semua jenis jalur tiga-dimensi dan rute, praktek navigasi, dan sebagainya.
            Literasi Spasial yang diwujudkan dalam materi geometri pada pembelajaran matematika, lebih berkenaan dengan bangun-bangun geometri, garis dan sudut, kesebangunan, kekongruenan, transformasi, dan geometri analitis. Mempelajari pola-pola visual, yang akan menghubungkan matematika dengan dunia nyata. Geometri juga dapat dipandang sebagai sistem matematika yang menyajikan fenomena yang bersifat abstrak (tidak nyata), akan tetapi dalam pembelajarannya bertahap didahului dengan benda-benda kongkret sebagai media sesuai dengan tahap perkembangan anak. Literasi spasial, merupakan hal yang abstrak yang tidak dapat diraba, dipegang, atau diamati secara langsung melalui panca indera, akan tetapi mereka ada dan dapat dipelajari sebagai materi matematika yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam pengembangan ilmu dan teknologi.
            Immanuel Kant menganggap matematika sebagai contoh bentuk apriori. Kant menilai, matematika sebagai gambaran ruang (dan waktu) yang membutuhkan dan melibatkan ruang untuk menghasilkan sebuah materi, maupun struktur tertentu. Pendekatan Filsafat untuk literasi spasial dalam literasi matematika merupakan bahasan tentang keberadaan objek. Hal ni berhubungan dengan persoalan tentang ”ada”, sehingga berada pada ranah ontologi. Literasi spasial akan ditinjau dari aspek ontologi, dimana aspek ontologi memandang bahwa untuk mengkaji bagaimana mencari inti yang tepat dari setiap kenyataan yang ditemukan, membahas apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental.
Dalam tulisannya yang berjudul Sejarah Dan Filsafat Matematika” Profesor Marsigit dari Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan, bahwa sebagai matematika murni, Kant menilai matematika sebagai kognisi Apriori, hanya mungkin dengan mengacu pada benda selain yang diindra, di mana, di dasar intuisi empiris mereka terletak sebuah intuisi murni (ruang dan waktu) yang Apriori. Lebih lanjut, ditulisan tersebut dijelaskan Kant mengklaim bahwa ini mungkin, karena intuisinya yang terakhir tidak lain adalah bentuk sensibilitas belaka, yang mendahului penampilan yang sebenarnya dari objek, dalam hal ini, pada kenyataannya, membuat mereka mungkin; namun ini merupakan kemampuan berintuisi a priori yang mampu memahami fenomena non fisik. Kant lebih jauh menyatakan bahwa di mana-mana ruang memiliki tiga dimensi, dan pada suatu ruang berlaku dalil bahwa tidak lebih dari tiga garis lurus dapat memotong pada sudut yang tepat di satu titik. (Marsigit, 2018).

            Contoh sederhana pada literasi spasial adalah bagaiaman seorang siswa diminta untuk membentuk sebuah kubus dari susunan lembar karton. Maka sesuangguhnya, bentuk kubus dari karton hanya sebuah model yang menerjemahkan pikiran, untuk memudahkan dalam pembelajaran. Padahal, sesungguhnya bentuk kubus telah ada dalam pikiran sehingga kita dapat memahaminya secara abstrak tanpa melihat model terlebih dahulu. Mampu menghitung luas, keliling dan volume kubus. Maka ini adalah makna matematika murni sebagai bentuk kognisi Apriori. Tetapi, bagi siswa Sekolah Dasar misalnya, dibutuhkan pemodelan yang kongkrit sehingga siswa dapat mengidentifikasi benda-benda disekitar yang berbentuk kubus, maka bagi siswa sekolah dasar, literasi spasial dimaknai sebagai bentuk kognisis posteriori, dimana siswa membutuhkan pengalaman untuk mengetahui. Berdasarkan itu, maka Literasi Spasial pada literasi matematika diukur pada siswa usia minimal 15 tahun, dimana pada usia tersebut siswa dianggap telah mampu menggunakan pikiran untuk mengabstraksi berbagai bentuk.
        Pada ranah epistemologi, literasi matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Hal ini ditunjukkan de’ Lange dalam struktur literasi matematikanya. Dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontektual, dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat, dapat dikuantifikasi. Dalam literasi spasial, dalam hal ini materi geometri, upaya memahami bentuk-bentuk abstrak untuk menghasilkan solusi membutuhkan kontekstual dan pemodelan yang lebih kongkret. Kebutuhkan ini, yang kemudian menjadi ciri khas literasi matematika. Dimana kehidupan sehari-hari menjadi konteks belajar matematika. Maka, dengan pendekatan filsafat, literasi spasial dalam matematika akan sesuai dengan pendapat bahwa kehidupan sehari-hari adalah laboratorium dalam berfilsafat (Marsigit, 2019). Maka dalam literasi matematika, berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari adalah laboratorium aktivitas matematika.
            Pemodelan atau abstraksi kehidupan sehari-hari sebagai laboratorim literasi spasial dalam literasi matematika, merupakan sebuah imaji yang memiliki proses kognitif terhadap objek. Di saat indera menangkap objek spasila (geometri) atau pemodelannya, maka kognisis seseorang  akan menangkap keseluruhan objek yang dilihat beserta keadaan lain, termasuk sifat-sifat objek tersebut. Sehingga ketika menemukan objek spasila yang sebenarnya abstrak, danmemiliki kesamaan sifat atau ciri dengan pengalaman (posteriori) pikiran akan membentuk objek spasial ( geometri) tersebut. Berdasarkan gagasan abstraksi dalam proses kognisi tersebut, maka objek-objek spasial menemukan landasan ontologinya.
              Sebagai ilmu abstrak, Literasi matematika yang memuat literasi spasial, numeracy dan quantitative literacy memiliki peran terhadap kemajuan teknologi untuk menyelesaiakn berbagai persoalan sehari-hari. Secara practical maupun moral, sehingga literasi matematika dengan mudah juga akan mendapati landasan aksiologinya. Landasan aksiologi yang dimaksud adalah yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Aksiologi merupakan filsafat nilai, menguak baik buruk, benar-salah dalam perspektif nilai. Aksiologi matematika sendiri terdiri dari etika yang membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan, dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya dalam kehidupan. Jadi, jika ditinjau dari aspek aksiologi, literasi matematika seperti ilmu-ilmu yang lain, yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan.